Gus Irawan Pasaribu
Gus Irawan Pasaribu

Jakarta, AKtual.com – Ketua Komisi VII DPR, Gus Irawan Pasaribu heran setelah mengetahui adanya indikasi keuntungan PT, Pertamina pada semester I mencapai Rp 8,3 triliun yang disinyalir didapat dari penjualan BBM kepada masyarakat dengan harga yang tidak sesuai keekonomian.

“Kami malah tahunya dari media soal keuntungan Pertamina yang besar dari jualan BBM subsidi ini. Komisi VII belum pernah diberikan Laporan Keuangan Pertamina. Tetapi dari harga BBM yang berlaku, memang rasanya pertamina untung besar karena jual harga jauh di atas harga keekonomiannya,” kata Ketua Komisi VII DPR, Gus Irawan Pasaribu, Selasa (27/9).

Menurutnya, sebagai BUMN yang mempunyai tugas layanan publik atau PSO, seharusnya pertamina mencari untung dari proses bisnis lainnya dan tidak menarik langsung dari masyarakat, apalagi kondisi ekonomi masyarakat saat ini sedang sulit.

“Situasi ekonomi yang sulit ini, janganlah justru Pertamina membebani rakyat,” kata Gus Irawan.

Berdasar laporan keuangan Pertamina semester pertama 2016, terungkap bahwa Pertamina meraih untung hingga USD 755 juta dari pelaksanaan PSO dan penugasan (kerosene, LPG 3 kg, solar dan premium non Jamali).

Rinciannya, keuntungan dari penjualan BBM PSO dan penugasan mencapai USD637 juta atau sekitar Rp8,3 triliun dan dari LPG 3 kg sebesar USD 117 juta atau sekitar Rp 1,5 triliun.

Dalam penjelasannya, Pertamina menyatakan bahwa laba usaha BBM PSO 449,9 persen lebih tinggi dibandingkan periode sama 2015. Tingginya kenaikan laba ini disebabkan oleh rendahnya biaya produk sejalan dengan penurunan harga MOPS (Mid Oils Platts Singapore) dan harga minyak mentah Indonesia (ICP) yang merupakan komponen pembentuk biaya produk.

Realisasi ICP di semester I-2016 hanya USD 36,16 per barel, jauh dibawah RKAP Pertamina sebesar USD 50 per barel. Maka dengan modal harga minyak yang rendah dan menjual BBM dan LPG subsidi di harga tinggi, Pertamina mampu mengantongi EBITDA sebesar USD 4,1 miliar, dengan EBITDA margin 23,9 persen atau 128 persen dari RKAP yang dirancang perusahaan. Sementara laba bersihnya mencapai USD 1,83 miliar, 113 persen lebih tinggi dari RKAP perseroan.

(Laporan: Dadangsah Dapunta)

(Eka)