Jakarta, Aktual.com – Anggota Komisi VII DPR Kurtubi menginginkan kursi Dirut Pertamina ditempati oleh orang internal perusahaan itu, karena untuk melanjutkan roda bisnis setelah Dwi Sutjipto hengkang.

Dalam penyeleksiannya, kata Kurtubi diprioritaskan orang yang memahami secara utuh tentang pertamina dan bisnis migas. Dan tak kalah penting adalah orang yang memiliki dedikasi tinggi.

“Dirut Pertamina sebaiknya orang yang memahami bisnis migas secara paripurna. Selain pendidikannya di bidang migas, juga berpengalaman melakoni dibidang migas. Mestinya orang internal yang punya nilai akademik bagus,” kata Kurtubi kepada Aktual.com, Kamis (23/2)

Berdasarkan informasi yang bergulir terdapat lima nama calon direktur pertamina yakni Sofyan Basir yang saat ini sebagai Dirut PLN. Lalu, Elia Massa Manik yang saat ini sebagai Dirut Holding Perkebunan. Kemudian ada Budi Gunadi sebagai Staf Ahli Menteri BUMN yang dulunya menjabat sebagai Dirut Bank Mandiri.

Sementara kandidat dari internal pertamina terdapat dua nama yakni Syamsu Alam, yang saat ini menjabat sebagai Direktur Hulu Pertamina. Serta Rachmad Hardadi yang saat ini menduduki kursi Direktur Mega Proyek Pengolahan dan Petrokimia.

Namun, berdasarkan pengamatan Direktur Eksekutif Energy Watch Indonesia Ferdninand Hutahaean, sosok Rachmat Hardadi bukanlah orang yang tepat untuk menjabat sebagai orang nomor wahid di pertamina.

“Rachmad Hardadi bukanlah orang yang tepat untuk menduduki posisi Dirut Pertamina. Ada beberapa alasan yang membuat kami ragu akan kemampuan, kapasitas, kapabilitas serta visi dari dia terhadap Pertamina,” kata Ferdninand kepada Aktual.com, Jumat (17/2).

Contohnya lanjut Ferdinand, ketika Rachmat Hardadi menjabat Direktur Pengolahan, dia tidak mampu menunjukkan profesionalitas.

“Kita lihat banyak kilang tidak diurus dengan benar. Jadwal maintenance tidak dilakukan, sehingga dampaknya beberapa bulan lalu terjadi gangguan secara beruntun.” [Dadangsah Dapunta]

(Wisnu)