Jakarta, Aktual.com – Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Rofi’ Munawar, mengingatkan pemerintah agar melakukan antisipasi terhadap trend kenaikan harga minyak dunia.
Dia memperkirakan harga fluktuatif dikisaran 60 USD/barel dalam tiga bulan terakhir ini berpotensi akan semakin meningkat dan dapat mengganggu APBN.
“Kenaikan harga minyak dunia dipengaruhi oleh banyak faktor, utamanya dari sisi eksternal seperti situasi geopolitik dan komitmen pembatasan produksi minyak global dari negara produsen. Menyikapi kondisi tersebut perlu strategi yang cermat dan jitu dari Pemerintah dalam mengelola subsidi energi,” kata Rofi’ Munawar secara tertulis di Jakarta, Kamis (25/1).
Rofi menyarankan Pemerintah segera merumuskan formula dan strategi yang tepat dari setiap kenaikan angka ICP yang berkembang. Terlebih kenaikan ICP secara faktual tidak sesuai alokasi anggaran energi yang telah dipatok pada Anggaran Peneriman Belanja Negara (APBN) 2018 sebesar 46 ribu barel per hari.
Selain itu dirinya juga meminta Pemerintah secara efektif meningkatkan produksi migas nasional. Ironisnya, cukup banyak lapangan minyak yang pengelolaannya ditahun 2018 dalam fase terminasi dan transisi.
“Kenaikan harga minyak dunia harus mampu dimanfaatkan oleh Indonesia sebagai peluang untuk mengungkit penerimaan negara. Meski dengan tentu saja secara hati-hati menjaga konsumsi BBM yang tetap proporsional” ulasnya.
Dia menambahkan, harga minyak yang lebih tinggi dapat menyebabkan pertumbuhan ekonomi yang lebih lambat, terutama jika belanja konsumen terdampak langsung. Padahal daya beli dan konsumsi selama ini menjadi tulang punggung menggerakan ekonomi nasional. Karenanya perlu inovasi untuk peningkatan cadanga energi.
“Indonesia saat ini menghadapi penurunan cadangan energi fosil khususnya minyak bumi, ini terus terjadi dan belum diimbangi dengan penemuan cadangan baru. Disisi lain, konsumsi energi terus meningkat.” Pungkas Rofi.
Dadangsah Dapunta
Artikel ini ditulis oleh:
Dadangsah Dapunta