Ketua Komite Olimpiade Indonesia (KOI) Erick Thohir memberikan sambutan saat acara penandatangan Nota Kesepahaman (Memorandum of Understanding) tentang Sinergi Jasa Layanan Perbankan bagi Anggota dan Pengurus di Lingkungan Komite Olimpiade Indonesia antara KOI dengan Bank BTN di Menara BTN, Jakarta, Senin (15/10/2018). Kerja sama ini dilakukan sebagai wujud dukungan terhadap atlit nasional yang berprestasi sekaligus mendukung kesuksesan Program Satu Juta Rumah. Melalui kemitraan tersebut, pengurus, anggota dan ribuan atlet nasional yang tergabung dalam KOI bisa memiliki rumah dengan skema menarik dan terjangkau. Para atlet pun bisa mengajukan KPR mulai dari usia 18 tahun dengan jangka waktu kredit hingga 30 tahun. Bank BTN juga menawarkan berbagai promosi khusus yakni uang muka mulai dari 5%, bebas biaya administrasi dan provisi, bebas biaya appraisal, dan hanya mengangsur bunga selama dua tahun pertama. AKTUAL/Eko S Hilman 

Jakarta, Aktual.com – Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir ingin memfokuskan alokasi program CSR (corporate social responsibility) untuk bidang pendidikan dan lingkungan hidup.

“Kalau lihat (CSR) pendidikan baru 22 persen. Apalagi, untuk lingkungan hidup baru 1 persen,” katanya saat acara “Milenial Fest 2019” di Balai Sarbini, Jakarta, Sabtu (14/12).

Padahal, kata dia, sekarang sudah eranya “green energy”, dan Presiden juga segera meluncurkan biodiesel 30 persen (B30) yang lebih ramah lingkungan.

Artinya, kata dia, BUMN harus satu visi dengan pemerintah, salah satunya melalui alokasi CSR yang lebih difokuskan untuk pendidikan dan lingkungan hidup.

Erick belum memastikan perubahan besaran alokasi CSR untuk pendidikan dan lingkungan hidup, tetapi yang jelas akan diperbesar persentasenya.

“Pendidikan dan lingkungan lebih dibesarkan. Sekarang kan 22 persen untuk pendidikan. Kalau bisa 30 persen, lalu ‘green’ dari 1 menjadi 5 persen, dalam lima tahun ke depan kan bagus,” katanya.

Erick tidak menyalahkan alokasi CSR yang sudah berjalan selama ini di kalangan BUMN karena setiap jangka waktu tertentu pasti terjadi paradigma.

“Tinggal kita perlu ‘refocus’ aja’ Bukan berarti salah-benar, ini cuma ‘refocus’, karena setiap 10 tahun terjadi perubahan paradigma baru,” katanya.

Ia mencontohkan perkembangan zaman yang menjadikan perusahaan yang bergerak di bidang teknologi informasi (IT) saat ini lebih besar ketimbang perusahaan-perusahaan lainnya.

“Boleh dong menteri yang baru pengen ‘shift’ lebih pada pendidikan, supaya generasi muda Indonesia punya kemampuan lebih baik. Alhamdulillah di sini lulus kuliah semua, Tetapi di luar sana banyak yang kurang,” kata Erick.

(Arbie Marwan)