Saudaraku, ibarat bening embun yang terperangkap di daun lusuh, kepulangan kita ke Idul Fitri kali ini melahirkan situasi ‘kesucian’ yang riskan.

Pribadi-pribadi boleh saja terlahir kembali bak embun suci, tetapi ruang publik-politik tempat menjalani hidup bersama boleh jadi relung yang tercemar.

Di satu sisi, kita harus tetap menjaga sikap hidup yg positif- optimis, karena pemikiran negatif-pesimis tak akan membawa kebaikan. Psikolog David D Burn mengingatkan bahwa depresi kejiwaan merupakan hasil pemikiran yang salah. Ketika seseorang atau suatu bangsa depresi oleh belenggu pesimisme, daya hidup dilumpuhkan oleh jeratan 4D—defeated (rasa pecundang), defective (rasa cacat), deserted (rasa ditinggalkan) dan deprived (rasa tercerabut)—yang dihayati sebagai kebenaran dan kenyataan sejati.

Di sisi lain, optimisme tersebut haruslah bersifat realisitis dengan mata terbuka, bahwa kegembiraan keberhasilan tidaklah datang dengan sendirinya secara tiban. Tidak ada pencapaian tanpa visi yang diperjuangkan dengan kesengajaan dan kegigihan.

Pelbagai krisis yang kita alami saat ini pada hakekatnya merupakan letupan permukaan dari krisis kebatinan karena pengabaian olah jiwa. Bahwa obsesi elit negeri pada gila kuasa dan harta tak dibarengi kecukupan rasa tanggung jawab.

Semoga dengan kembali ke fitrah manusia dan fitrah bernegara, kita bisa memulihkan kesehatan jiwa dan meluruskan arah kiblat yang dapat mengantarkan bangsa meraih kemenangan!

Makrifat Pagi, Yudi Latif

(As'ad Syamsul Abidin)