Pekerja menata tabung gas elpiji 3 kilogram di Depot and Filling Station LPG Pertamina Plumpang, Jakarta, Selasa (3/11). Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM I Gusti Nyoman Wiratmaja Puja berharap sekitar 20 persen konsumen gas elpiji bersubsidi tiga kilogram dapat beralih ke elpiji 5,5 kilogram nonsubsidi agar subsidi dapat dialihkan ke infrastruktur, kesehatan, dan lainnya. ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A./pd/15

Banjarmasin, Aktual.com – Gas (LPG) dalam tabung isi tiga kilogram, kembali langka di Provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel) sehingga harganya menjadi mahal belakangan ini.

Masyarakat di Banjarmasin, Selasa (20/2), menyampaikan dalam dua hari belakangan ini sulit mendapatkan elpiji tabung isi 3 kg atau dengan sebutan “melon” itu. Kalau pun ada, harga gas melon mencapai Rp25 ribu/tabung, bahkan bisa lebih mahal lagi, sementara harga eceran tertinggi pada tingkat distributor hanya Rp17.000.

Menurut Wongso, warga Banjarbaru yang mencari gas melon ke beberapa pangkalan dan penjual eceran lainnya, namun jenis bahan bakar yang termasuk kelompok bersubsidi tersebut kosong.

“Bahkan aku mencari pula ke beberapa pangkalan penjual melon tersebut, tetapi barang dagangan itu juga kosong, kecuali gas tabung isi lima dan 12 kilogram,” ujar ayah satu anak tersebut.

Persoalan senada terkait gas melon tersebut sebagaimana perbincangan ibu-ibu atau nenek di Banjarmasin yang menunggu anak/cucu mereka mengikuti kegiatan di tamam kanak-kanak (TK).

Namun di antara ibu-ibu dan nenek-nenek tersebut menyatakan, terpaksa membeli gas melon kendati harga mahal, dengan alasan menggunakan minyak tanah hasil masakan itu aromanya kurang enak bila dibandingkan dengan gas elpiji.

Tapi, ada pula ibu rumah tangga di Banjarmasin dan daerah lain di Kalsel yang tidak ambil pusing dengan persoalan elpiji, serta minyak tanah, baik ketika langka atau pun tidak.

Mereka tidak menggunakan gas dan minyak tanah, dan masih terbiasa menggunakan kayu bakar untuk memasak atau keperluan dapur lainnya.

Alasan pengguna kayu bakar itu, hasil masakan mereka aromanya lebih sedap bila dibandingkan dengan menggunakan kompor gas dan minyak tanah, serta tidak perlu repot menunggu ketersediaan gas melon dan minyak tanah yang sering terjadi kelangkaan.

 

Ant.

()