Surabaya, Aktual.Com-Kenaikan harga cabai sejak sebelum hari natal, hingga kini masih belum turun. Bahkan, di Pasar Wonokromo Surabaya, harga cabai melonjak hingga mencapai 300 persen.
Tak ayal, harga tersebut menurunkan minat beli masyarakat. Akibatnya banyak masyarakat yang memilih membeli cabai kering dan busuk.
“Sudah tiga Minggu saya jual cabai campuran. Ya cabai busuk yang kering, saya campur dengan cabai yang baik.” ucap Hermin, salah satu pedagang cabai, di Pasar Wonokromo, Surabaya, Sabtu (7/1/2017).
Hermin menduga, bahwa cabai busuk itu karena terlalu lama disimpan oleh pedagang besar. Sehingga, saat tiba di pasar tradisional, hanya bertahan beberapa hari.
Akibat banyaknya yang busuk, ia pun harus merugi. Sehingga untuk menutup kerugian, maka solusinya adalah dicampur dengan cabai stok baru. Harga cabai sendiri saat ini, kata Hermin, sudah diatas 100 ribu per kilogramnya.
Ternyata, kata Hermin, cabai campuran justru diminati para pembeli. Sebab, harga cabai kering dan busuk itu, harganya lebih murah dengan 60 ribu per kilogramnya.
Sementara Komisi Pengawas Persaingan Usaha Surabaya (KPPU) menyayangkan beredarnya cabai kering dan busuk tersebut. Sebab, berpotensi untuk merusak kesehatan.
Kepala KPPU Surabaya, Aru Armando, menduga ada permainan tengkulak dibalik meroketnya harga cabai.
“Karena harga cabai mahal, konsumen saat ini mengalihkan ke cabai rawit hijau dan kriting. Bahkan ada yang terpaksa berlaih ke cabai busuk dan kering. Banyak faktor yang mempengaruhinya. Selain tengkulak, rantai distribusi juga terlalu panjang.” kata Aru.
Pewarta dan Foto: Ahmad H Budiawan
Artikel ini ditulis oleh:
Bawaan Situs

















