JAKARTA, Aktual.com, Ketua Umum Gerakan Muda Nurani Rakyat Gemura, Oktasari Sabil menilai pernyataan Menteri Investasi/Kepala BKPM Bahlil Lahadalia yang menyebut pengusaha nakal dengan istilah pengusaha atau tukang pencak silat merupakan bentuk kegaduhan baru, dan membangun stereotip negatif terhadap Seni Pencak Silat yang menjadi akar budaya bangsa dan juga salah satu cabang olah raga yang banyak menyumbang medali emas dalam setiap event olah raga internasioal.

Oktasari sabil meminta Menteri Bahlil bersikap jantan dan meminta maaf atas pernyataannya yang memfitnah pencak silat sebagai sebuah kegiatan negatif.

“Ada budaya di negeri kita, Jika sudah distereotipkan negatif, maka akan terus diperburuk citranya dan nantinya dijauhi, dimusuhi bahkan dijadikan sebagai organisasi terlarang. Seperti kata “Radikal” dalam bahasa latin atau ilmiah, radiks artinya akar, yang secara keseluruhan Radikal berarti = mengakar. Sebuah cara berfikir radikal artinya cara berfikir yang komperhensif dan mengakar. Namun kata radikal di stereotipkan sebagai sesuatu yang negatif dan mulai diterapkan sebagai stigma kepada organisasi-organisasi tertentu, hingga akhirnya ada banyak pembubaran organisasi dengan stigma radikal. Hal ini bahaya jika terjadi pada seni Bela Diri Pencak Silat. Pencak Silat ini warisan budaya bangsa,” tegas Okta.

Menurut Okta, Menteri Bahlil harus bersikap kstaria, dengan mencabut pernyataannya, meminta maaf melalui seluruh media nasional, dan tidak cukup sampai disitu, pak Menteri juga harus datang dan Sowan ke Padepokan atau perwakilan Pencak silat di Indonesia untuk mengklarifikasi ucapannya. Jika itu dilakukan oleh pak Menteri, maka persoalan ini bisa selesai, namun jika tidak, akan banyak bermunculan kegaduhan baru dan berdampak buruk bagi pemerintah Pak Jokowi secara umum.

“Mencabut pernyataan, Minta maaf di semua Media Nasional dan datang ke padepokan-padepokan besar Pencak silat, atau lembaga yang menjadi reprentasinya seperti PB IPSI (Pengurus Besar Ikatan Pencak Silat Seluruh Indonesia) untuk mengkarifikasi langsung, sebagai sebuah tindakan kongkret dan menyatakan perasaan menyesal dan bersalah atas statemen yang dibuatnya. Itu baru ksatria dan sikap seorang Negarawan, Tegas Okta yang juga Politisi Partai Gerindra.

Seperti dilansir detik.com, Menteri Investasi/Kepala BKPM Bahlil Lahadalia menyatakan diluncurkan sistem perizinan online terpadu atau Online Single Submission (OSS) Berbasis Risiko oleh Presiden Joko Widodo, untuk tujuan salah satunya meningkatkan transparansi perizinan.

Bahlil Lahadalia membeberkan, dengan adanya OSS maka para pengusaha nakal, yang diistilahkan Bahlil tukang ‘pencak silat’ atau ‘kungfu’ tidak bisa lagi bermain-main.

“Jadi (OSS) ini memudahkan betul, tidak perlu lagi ketemu-ketemu pejabat terlalu banyak selama dia benar, jangan pengusaha pencak silat. Kalau pengusaha pencak silat, kungfunya banyak pasti harus ketemu karena harus luruskan kungfu-kungfunya itu,” kata Bahlil dalam webinar, Kamis (12/8/2021).

OSS, lanjut dia ada untuk membantu pengusaha-pengusaha dalam mengurus izin berusaha secara baik dengan memangkas birokrasi, biaya, waktu, dan menciptakan transparansi.

“Kalau pengusaha tukang kungfu nggak bisa barang ini. Nah kita kan tukang kungfu juga dulu, jadi kita tahu. Nah yang baik-baik aja ini barang,” sebutnya.

“Pengusaha yang pencak silatnya banyak wajib kita tahan supaya jangan membuat masalah di negara ini,” lanjut Bahlil.

Dia menerangkan bahwa tidak semua pengusaha itu baik. Pengalamannya memimpin di Kementerian Investasi, para pengusaha ini memiliki kreativitas yang tinggi dalam menghadapi regulasi atau aturan yang ada.

“Kami di Kementerian Investasi ini antara regulasi dan intuisi pencak silatnya (pengusaha) sahabat-sahabat lama saya itu harus berimbang, karena kalau tidak, kreativitas pencak silat ini lebih tinggi daripada regulasi kekinian. Jadi kungfunya itu betul-betul kita harus mampu mendeteksi secara dini,” tambah Bahlil.

(Ridwansyah Rakhman)