Bondowoso, Aktual.com – Praktisi gerakan literasi asal Jember Fandrik Ahmad mengatakan bahwa gerakan literasi di kalangan kaum muda Nahdlatul Ulama sangat penting, salah satunya untuk mengimbangi derasnya arus informasi yang berbeda paham dengan organisasi yang didirikan oleh Hadratusy Syech KH HAsyim Asy’ary itu.

“Literasi ini berurusan dengan syiar juga. Lemahnya NU, disamping urusan ekonomi, juga urusan syiar yang belum maksimal,” kata cerpenis yang juga aktivis di Lembaga Seni Budaya Muslimin Nahdlatul Ulama (Lesbumi) Jember itu dalam bincang santai dengan generasi muda NU yang diselenggarakan Pengurus Lembaga Ta’lif wan Nasyr NU (LTNU) Bondowoso, Jatim, Sabtu (23/1).

Alumni Pondok Pesantren An Nuqayah Guluk-Guluk, Sumenep, Madura, itu mengemukakan bahwa sebab syiar keaswajaan saat ini, khususnya di media sosial, masih kalah jauh dengan syiar dari kelompok radikal.

Penulis yang sudah menerbitkan sejumlah buku kumpulan cerpen dan novel itu mengingatkan bahwa dalam dunia tulis menulis, generasi NU harus berpegangan pada ideologi yang diusung, yakni nilai-nilai kesantrian dan keagamaan.

“Dalam sastra harus tetap berkomitmen atas ‘baju’ yang kita kenakan. Liar boleh, tapi tidak lupa akan ‘baju’ yang kita pakai,” kata penulis yang cerpen-cerpennya banyak dimuat di media nasional itu.

Seorang penulis, menurut dia, harus memiliki ideologi, sebagai rujukan atas ketentuan prosedural yang ada di media kita. Namun, ide tidak pernah tahu kapan akan muncul. Oleh karena itu, ide dalam garis besar harus kita simpan dalam buku catatan.

“Catatan itu kemudian dibuatkan kerangka daripada ide tersebut dalam draf draf yang kemudian membentuk sebuah karya nantinya, baik cerpen dan sebagainya,” kata alumni S2 UIN KH Achmad Siddiq (Khas) Jember ini.

Bagi generasi muda NU, Fandrik mengingatkan bahwa di organisasi itu, jangan banyak berharap apa-apa, kecuali proses gesekan untuk menambah ilmu, baik dari kiai, para senior maupun yang lainnya. (Antara)

(As'ad Syamsul Abidin)