Kudus, Aktual.com – Harga jual kedelai impor di Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, tidak terlalu terpengaruh secara signifikan dengan penurunan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat, kata Ketua Primer Koperasi Tahu Tempe Indonesia (Primkopti) Kabupaten Kudus Amar Ma’ruf.

“Harga jual kedelai impor saat ini sekitar Rp6.950,00 per kilogram atau naik tipis dibandingkan dengan harga jual pada awal Desember 2015 yang mencapai Rp6.900,00/kg,” katanya di Kudus, Minggu (27/12).

Padahal, lanjut Amar Ma’ruf, kurs rupiah terhadap dolar AS sempat melemah hingga mencapai angka Rp14 ribu.

Meskipun demikian, dia menilai fluktuasi harga jual kedelai impor masih tergolong wajar dan belum terlalu terpengaruh dengan pelemahan nilai tukar rupiah.

Hanya saja, kata dia, harga jual kedelai impor saat ini belum mendapatkan respons positif di pasaran, karena produsen tahu dan tempe belum mampu menaikkan kapasitas produksinya.

Hal itu, lanjut dia, terlihat dari transaksi penjualan kedelai impor setiap harinya berkisar 10–15 ton per hari.

Jumlah permintaan kedelai impor tersebut, tentu berbeda jauh dengan bulan sebelumnya, karena dalam sehari bisa mencapai 20 ton.

Informasi dari para pemilik usaha tahu dan tempe, menurunnya tingkat produksi karena permintaan di pasaran juga sedang sepi.

Sementara itu, ketersediaan kedelai lokal saat ini tidak ada daerah yang panen, sehingga tidak tersedia.

Ia menyebutkan daerah yang menjadi pemasok kedelai lokal, antara lain dari Kabupaten Grobogan, Jember, Lamongan, Bali, Pulau Madura, dan Purworejo.

Harga jual kedelai lokal sebelumnya, kata dia, sebesar Rp6.800,00/kg.

“Adapun stok kedelai impor yang tersedia saat ini sekitar 60 ton,” katanya.

Sementara itu, jumlah pengusaha tahu dan tempe di Kabupaten Kudus diperkirakan mencapai 300-an pengusaha.

()

()