Warga memasang tulisan penolakan penggusuran didepan rumah dikawasan Bukit Duri, Jakarta, Selasa (20/9/2016). Pemprov DKI akan segera membongkar kawasan Bukit Duri guna normalisasi Sungai Ciliwung untuk pengendalian banjir.

Jakarta, Aktual.com – Tinggal terhitung jam saja pemukiman warga Bukit Duri bakal rata dengan tanah digusur alat berat. Dari pantauan Aktual.com di lokasi, tampak hilir mudik warga memindahkan barang-barang dari rumahnya. Seperti yang terlihat di RT 06/RW 12, dua mobil bak sudah penuh dengan barang-barang dari rumah seorang warga.

Begitu juga di sanggar milik Ciliwung Merdeka tampak beberapa orang mengoper barang untuk dipindahkan. Suasana riuh. Beberapa warga bergerombol membincangkan penggusuran yang bakal menimpa rumah tempat mereka tinggal. Coretan-coretan protes terhadap pemerintah terlihat di dinding rumah yang sudah dibongkar.

Warga yang rumahnya tidak ikut tergusur pun menontoni tetangga-tetangga mereka yang lusa sudah tidak tinggal di sana lagi. “Biar kita ngga kena ya tetap saja sedih bakal kehilangan tetangga yang sudah lama tinggal bersebelahan sama kita di sini di Bukit Duri,” ujar seorang ibu yang enggan disebut namanya kepada Aktual.com, Selasa (27/9) malam.

Ibu lainnya ikut menimpali, rumah mereka tidak ikut tergusur karena berdiri di atas tanah milik PJKA. “Almarhum suami saya karyawan PJKA (sekarang KAI),” kata dia.

Dia menuturkan warga-warga yang memilih mengambil rumah susun sewa (rusunawa) pun sebenarnya sedih saat merobohkan sendiri rumahnya. Dia mengaku melihat sendiri para tetangganya sambil menangis meruntuhkan satu persatu tembok rumah mereka sebelum pindah ke rusunawa. “Pada nangis waktu ngebobok tembok rumah mereka,” tutur dia.

Sales Rusunawa Berkeliaran

Sambil mengucap pelan, kalau ada juga warga yang mengambil ‘keuntungan’ dari adanya penggusuran. Yakni dengan menjadi ‘sales’ rusun. Kerjaannya, menawarkan unit rusunawa Rawa Bebek ke warga yang bakal tergusur. “Sales-sales kaya begini ya dari warga juga, tapi malah bikin warga kesel. Mereka (sales) itu kaya pengkhianat di antara warga korban gusuran sendiri,” ujar dia.

Dari warga yang lain, Aktual mendapat informasi kalau keberadaan ‘sales-sales’ rusunawa itu justru dilakukan oleh warga yang tinggal di kontrakan dan bukan warga asli. “Yang saya dengar mereka itu disuruh oleh pihak kelurahan buat nawar-nawarin unit rusun,” ucap dia.

Sedangkan seperti diketahui, hingga saat ini sebagian warga Bukit Duri masih mengajukan gugatan di PN Jakarta Pusat melalui class action. Mereka menggugat program normalisasi Sungai Ciliwung yang dilakukan Pemprov DKI.

()