Menurut HNW, masjid menjadi sarana efektif untuk membuat remaja mempunyai alternatif kegiatan yang menyenangkan. Di masjid mereka mempunyai teman dan tidak sendirian. Di masjid tidak ada kegiatan-kegiatan kejahatan karena di masjid tidak ada narkoba, judol, atau tindakan kriminal lainnya. Di masjid tidak mungkin melakukan kejahatan.
Apalagi, lanjut HNW, upaya itu penting dalam konteks menyongsong Indonesia Emas 2045. Mengutip Abraham Lincoln, Presiden Amerika Serikat, HNW mengatakan untuk melihat nasib bangsa 20 tahun yang akan datang maka lihatlah kondisi 20 tahun sebelumnya. “Maka tergantung apa yang kita tanam sekarang ini menuju tahun 2045. Apa yang kita kerjakan sekarang akan berdampak pada 2045 nanti, apakah kita akan memanen bonus demografi positif pada 2045 atau sebaliknya justru bonus demografi negatif,” jelasnya.
“Kalau kita biarkan anak-anak berkembang dalam kondisi sebagai korban judol, korban kekerasan seksual, korban game online, korban narkoba, maka ibarat tanaman, ini adalah tanaman yang buruk. Kalau dipanen, pasti buahnya tidak bagus. Kalau tidak dipedulikan atau dibiarkan menjadi korban dari berbagai kedaruratan itu, mereka tetap akan mengisi kehidupan di tahun 2045. Alih-alih akan hadir Indonesia Emas, tetapi Indonesia yang lemas yang tidak sesuai dengan cita-cita Proklamasi dan Reformasi-lah yang akan mengisi tahun 2045. Hal yang harus diwaspadai dan dikoreksi,” pungkas HNW yang disambut sangat antusias oleh pimpinan JPRMI yang hadir menemui HNW di ruang kerja pimpinan MPR.
Artikel ini ditulis oleh:
Tino Oktaviano
















