Yudi Latif
Yudi Latif

Saudaraku, sekali hujan turun, rerumputan kering menghijau kembali. Ketulusan memberi dan melayani menumbuhkan spontanitas daya bangkit bagi semesta kehidupan.

Filsuf Konfusius, Mencius, meyakini jiwa manusia sehat tak akan kosong dari rasa simpati pada sesama. Jika seseorang melihat anak kecil berdiri di tubir jurang, secara refleks dia akan menghela anak tersebut tanpa sempat berpikir apa suku, agama, atau keuntungan yang didapat.

Mencintai sesama bak mencintai diri sendiri adalah kaidah emas bagi kebahagiaan hidup. Kebahagiaan tertinggi, menurut Viktor Frankl, dapat terengkuh manakala manusia menemukan makna dalam hidupnya.

Dalam ungkapan Karen Armstrong, Neokorteks otak manusia menjadikannya makhluk pencari makna yang menyadari akan kebingungan dan tragedi nestapa kita, dan jika kita tak menemukan semacam arti paling mendalam dari hidup, kita mudah jatuh ke lembah keputusasaan. Adapun makna hidup terengkuh dengan jalan mengembangkan welas asih: bergembira dalam kebahagiaan yang lain dan bersedih dalam kepedihan yang lain.

Ketulusan welas asih yang dipancarkan relawan (sungguhan) dan figur teladan bak tetes hujan di tengah kemarau etika dan rasa kemanusiaan. Siraman pelayanan mereka hidupkan kembali kebun kehidupan dari kekeringan yang ditimbulkan oleh keserakahan korupsi, menimbun harta, mementingkan diri sendiri; serta ketegaan saling membohongi, mengkhianati, dan membenci sesama.

Dalam impitan kesulitan yang melilit kehidupan rakyat, para pemuka bangsa dituntut mawas diri. Dengan mawas diri akan tampak bahwa kesulitan warga meraih kebahagiaan hidup disebabkan tabiat elit negeri yang tertawan di kebahagiaan rendah karena rangkaian ambisi-keserakahan yang tak pernah berakhir.

Sa’di berkisah, ”Seorang raja yang rakus bertanya kepada seseorang yang taat tentang jenis ibadah apa yang paling baik. Dia menjawab, “Untuk Anda, yg paling baik adalah tidur setengah hari sehingga tidak merugikan atau melukai rakyat meski untuk sesaat’.”

Dunia dapat menjadi surga ketika kita saling mencintai, mengasihi, melayani, serta saling jadi sarana bagi pertumbuhan batin dan keselamatan. Dunia bisa jadi neraka jika kita hidup dalam rongrongan rasa sakit, pengkhianatan, kehilangan cinta, dan miskin perhatian.

Makrifat Pagi, Yudi Latif

(As'ad Syamsul Abidin)