Jakarta, Aktual.com – Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, menilai koreksi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) belum mencerminkan kondisi fundamental ekonomi Indonesia secara menyeluruh. IHSG ditutup turun 114,92 poin atau 1,61 persen ke level 7.022,29 pada perdagangan Senin (16/3/2026).
Menurut Purbaya, pergerakan pasar saham saat ini terlalu dini untuk menilai arah ekonomi sepanjang tahun. Data kuartal pertama dan kedua masih akan dirilis, sehingga potensi penguatan pasar saham masih terbuka. “To the moon tetap, 10.000 masih bisa di akhir tahun karena memang ekonomi kita baik. Baru bulan Maret, data triwulan pertama saja belum keluar, jadi tidak perlu terlalu khawatir melihat pergerakan sekarang,” katanya di Kantor Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Jakarta.
Optimisme Menkeu didasarkan pada kekuatan fundamental ekonomi domestik yang tetap solid di tengah ketidakpastian global. Posisi ekonomi Indonesia dinilai relatif lebih kuat dibandingkan sejumlah negara di kawasan. Selain itu, stabilitas fiskal yang terjaga memberi ruang bagi pemerintah untuk mendorong pertumbuhan ekonomi lebih cepat.
“Dengan modal yang sama, dengan defisit fiskal yang terkendali, kita bisa ciptakan pertumbuhan yang lebih cepat. Ekonomi kita akan berbeda dengan negara-negara tetangga kita,” ujar Purbaya.
Di tengah koreksi pasar saham, Menkeu mengingatkan investor tetap selektif dalam memilih emiten. Ia menyarankan pelaku pasar memanfaatkan momentum koreksi untuk mengoleksi saham dengan fundamental kuat.
Purbaya menambahkan pengalaman Indonesia menghadapi berbagai siklus ekonomi, termasuk periode lonjakan harga energi di masa lalu, menjadi bekal penting dalam menghadapi gejolak global. Dengan fondasi tersebut, pemerintah meyakini perekonomian nasional tetap mampu bertahan dan memberi ruang bagi IHSG untuk kembali menguat.
Meskipun IHSG terkoreksi, keyakinan pemerintah pada fundamental ekonomi dan stabilitas fiskal menjadi faktor penting untuk menjaga optimisme pasar saham, sekaligus memberikan sinyal kepada investor untuk tetap berhati-hati namun memanfaatkan peluang investasi jangka panjang.
(Nur Aida Nasution)
Artikel ini ditulis oleh:
Eka Permadhi
















