Jakarta, Aktual.com – India menduduki posisi kedua di dunia setelah Amerika Serikat, dengan jumlah kasus COVID-19 terbanyak. Bahkan, sempat mencatat penambahan kasus baru mencapai 400 ribu kasus per hari.

Perjuangan India menyelamatkan para pasien COVID-19 juga turut diperparah dengan kelangkaan stok oksigen. Harneet Singh, yang merupakan relawan Kuil Sikh mengungkapkan, perjuangan para relawan untuk mendapat oksigen menembus pasar gelap dengan harga jual yang berlipat-lipat ganda.

“Kami telah mengisi ulang tabung oksigen seharga lebih dari 70 dolar di pasar gelap, padahal biaya sebenarnya adalah 2 dolar. Kami membayar lebih dari 400 dolar untuk membeli tabung oksigen yang seharusnya harganya kurang dari 100 dolar,” ungkap Harneet Singh, Rabu (26/5).

Harneet menambahkan, perjuangan untuk mendapatkan oksigen itu, juga dilakukan para relawan hingga ke pelosok negeri.

“Dan kami telah melakukan perjalanan ke kota besar dan kecil sejauh 500 km untuk mendapatkan persediaan ini,” terangnya.

Vaksinasi menjadi salah satu harapan warga India dalam upaya melawan pandemi Covid-19, dan vaksin Pfizer yang paling diharapkan karena memiliki efektifitas tinggi.

Sayangnya, vaksin yang dikembangkan oleh perusahaan BioTech itu belum teregistrasi di India.

CEO Pfizer Albert Bourla dalam wawancara di Wion menyebut, pihaknya tengah berkoordinasi dengan pemerintah India agar memberikan persetujuan bagi Pfizer masuk ke negara itu.

“Pfizer menyadari bahwa akses ke vaksin sangat penting untuk mengakhiri pandemi ini. Sayangnya vaksin kami tidak terdaftar di India. Meskipun, aplikasi kami telah diajukan berbulan-bulan lalu. Kami sedang berdiskusi dengan pemerintah India dan mempercepat jalur persetujuan untuk membuat vaksin bioteknologi Pfizer kami tersedia untuk digunakan di negara tersebut,” ucap Bourla dalam wawancara di WION awal Mei.

Pandemi COVID-19 di India juga menciptakan varian baru yang dikenal sebagai B.1.617.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Rabu, 26 Mei, mengkonfirmasi varian COVID-19 India telah menyebar di 53 negara dan wilayah di dunia.

WHO juga menerima informasi dari sumber tidak resmi, jika varian B.1.617 ini ditemukan di tujuh wilayah lainnya.(RRI)

(Warto'i)