Jakarta, Aktual.com – Ada berbagai macam jenis perang modern yang bisa melibatkan Indonesia. Ada yang dinamakan perang proksi (proxy war), yakni perang dengan meminjam tangan pihak lain. Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo sudah sering mengingatkan tentang ancaman perang proksi. Namun, yang belum banyak dibahas adalah jenis perang lain, yaitu perang hibrida.

Mantan Kepala Staf Angkatan Darat Amerika Serikat, Jenderal George W. Casey, sudah bicara tentang sebuah jenis baru perang, yang akan semakin umum terjadi di masa depan. “Yaitu, sebuah hibrida antara perang ireguler dan perang konvensional,” ujarnya.

Perang hibrida (hybrid war) adalah strategi militer yang mencampurkan perang konvensional, perang iregular, dan perang siber. Dalam perang ini, dengan mengombinasikan operasi-operasi kinetik dengan upaya-upaya subversif, pihak agresor bermaksud untuk menghindari atribusi atau retribusi.

Perang hibrida dapat digunakan untuk menjabarkan dinamika yang kompleks dan luwes dari ruang pertempuran. Dinamika ini menuntut tanggapan yang ulet, dan tanggapan yang sangat tinggi tingkat adaptasi atau penyesuaian dirinya.

Perang hibrida adalah perang dengan aspek-aspek sebagai berikut:

Pertama, musuh yang non-standar, kompleks, dan cair. Musuh hibrida bisa berupa negara atau non-negara. Misalnya, dalam kasus perang Israel-Hizbullah dan Perang Saudara Suriah, pihak-pihak utama yang bermusuhan adalah entitas non-negara di dalam sistem negara. Aktor-aktor non-negara ini dapat menjadi proksi (kepanjangan tangan) dari negara tertentu, namun mereka juga memiliki agenda-agenda tersendiri.

Kedua, musuh hibrida menggunakan kombinasi metode-metode konvensional dan ireguler. Metode dan taktik itu termasuk kapabilitas konvensional, taktik-taktik ireguler, formasi-formasi ireguler, aksi-aksi teroris, kekerasan tanpa pandang bulu, dan aktivitas kriminal. Musuh hibrida juga menggunakan aksi-aksi rahasia (clandestine actions) untuk menghindari atribusi atau retribusi. Metode-metode ini digunakan secara serempak di seluruh spektrum konflik dengan sebuah strategi terpadu (unified strategy).

Ketiga, musuh hibrida bersifat luwes dan mampu beradaptasi secara cepat. Contohnya, adalah tanggapan ISIS terhadap kampanye pemboman besar-besaran militer Amerika. ISIS dengan cepat mengurangi jumlah pos pemeriksaan (checkpoints) dan penggunaan telepon seluler (karena sinyal telepon seluler bisa dilacak oleh rudal Amerika). Para anggota militan ISIS juga membaur di kalangan penduduk sipil. Dampak kerusakan (collateral damage) akibat pemboman udara AS, yang diderita warga sipil, bahkan dapat dimanfaatkan ISIS sebagai alat propaganda dan sarana rekrutmen anggota baru.

Keempat, musuh hibrida menggunakan sistem persenjataan canggih dan teknologi-teknologi disruptif lain. Senjata-senjata ini sekarang dapat dibeli dengan harga yang relatif murah dan terjangkau. Lebih jauh, teknologi-teknologi militer baru lainnya dapat disesuaikan untuk penggunaan di medan tempur, seperti teknologi jejaring seluler.

Kelima, penggunaan komunikasi massa dan propaganda. Pertumbuhan jejaring komunikasi massa menawarkan alat propaganda dan rekrutmen yang kuat. ISIS, misalnya, dengan piawai menggunakan berbagai media sosial untuk mempromosikan ideologi dan agendanya. Berbagai gambar yang menunjukkan “kehebatan” ISIS disebar melalui Youtube. Sementara pesan-pesan propaganda kelompok bisa dibaca meluas melalui Twitter dan Facebook.

Keenam, sebuah perang hibrida terjadi pada tiga medan tempur yang berbeda. Yakni, medan tempur konvensional, penduduk asli yang berada di zona konflik, dan komunitas internasional.

Pasukan militer tradisional umumnya merasa sulit merespons perang hibrida. Negara-negara yang menjadi bagian dari sistem pertahanan kolektif, seperti NATO, mungkin sulit mencapai kata sepakat tentang sumber konflik. Maka, hal ini menimbulkan kesulitan pula untuk merespons. Selain itu, untuk menandingi ancaman hibrida, kekuatan keras (hard power) sering tidak memadai. Kekuatan yang jauh lebih besar tidaklah cukup untuk jadi penangkal (deteren).

Sering kali konflik muncul tanpa disadari, dan bahkan tanggapan yang dianggap “cepat” terbukti kemudian sudah terlambat. Banyak militer tradisional juga kurang memiliki keluwesan untuk berganti taktik, prioritas, dan tujuan-tujuan secara konstan atau terus-menerus.

Hal yang juga baru adalah kecanggihan (sophistication) dan daya mematikan (lethality) dari aktor-aktor non-negara. Aktor-aktor ini dipersenjatai dengan baik, menggunakan senjata-senjata maju yang sekarang tersedia dengan harga relatif murah. Sebuah unsur baru lain adalah kemampuan aktor-aktor non-negara untuk bertahan dalam sistem modern.

Contoh perang hibrida adalah pada 2014, ketika kelompok ekstrem ISIS sebagai aktor non-negara memanfaatkan taktik-taktik hibrida untuk melawan pasukan militer konvensional Irak. ISIS memiliki aspirasi-aspirasi transisional, menggunakan taktik-taktik reguler dan ireguler, serta menerapkan teror sebagai bagian dari persenjataannya dalam konflik.

Perang hibrida di Irak dan Suriah adalah konflik di mana terdapat kelompok aktor-aktor negara dan non-negara yang saling berkaitan (interconnected), yang mengejar tujuan-tujuan yang tumpang tindih, serta sebuah negara setempat yang lemah. Perang ini melibatkan pasukan pemerintah, kelompok-kelompok oposisi, dan negara-negara luar.

Melihat dinamika konflik yang sudah dan mungkin akan terjadi di masa depan, ancaman perang hibrida jelas adalah sesuatu yang nyata. Apalagi jika kita melihat konteks regional dan internasional. TNI perlu mencermati dan mendalami lebih lanjut tentang berbagai aspek dan komplikasi perang hibrida, sehingga siap menghadapi segala potensi ancaman di masa mendatang. ***

 

()