Direktur Utama PT Madusari Murni Indah Tbk, Arief Goenadibrata (kanan) bersama Direktur Utama Bursa Efek Indonesia ,Inarno Djayadi melihat dari dekat layar lantai bursa disela sela pencatatan saham perdana PT Madusari Murni Indah Tbk (MOLI) di Main Hall,BEI,Jakarta, Kamis (30/8). MOLI tercatat sebagai emiten ke 34 di BEI di tahun 2018 dengan melepas 351.000.000 saham atau 15,03% dari modal ditempatkan dan disetor penuh setelah IPO. MOLI adalah perusahaan holding yang menaungi PT Molindo Raya Industrial sebagai pabrik Ethanol dengan kapasitas produksi 80.000 KL per tahun, Perusahaan ini didirikan di Malang pada tahun 1965. AKTUAL/Eko S Hilman

Jakarta, Aktual.com – Adanya kekhawatiran dari pelaku pasar terkait potensi perlambatan global seiring imbas perang dagang antara AS dan Tiongkok membuat permintaan akan USD meningkat dan berimbas pada melemahnya Rupiah. Adapun nilai tukar Rupiah terdepresiasi 0,49 persen dari sebelumnya turun 1,12 persen.

Pada pekan kemarin, laju Rupiah sempat melemah ke level 14650 atau di bawah sebelumnya di level 14565. Sementara level tertinggi yang dicapai di angka 14465 atau di bawah sebelumnya di angka 14215. Laju Rupiah di pekan kemarin bergerak di bawah target support 14.545 dan di atas resisten 14.527. Pergerakan Rupiah di awal pekan cenderung melemah. Padahal laju USD sedang melemah seiring rilis beberapa data makroekonominya yang di bawah ekspektasi sebagai imbas terjadinya perang dagang. Dengan adanya rilis tersebut, timbul asumsi penilaian The Fed kemungkinan tidak akan agresif dalam menaikan suku bunganya.

Minimnya sentimen positif dari dalam negeri yang dibarengi dengan imbas melemahnya JPY setelah dirilisnya pertumbuhan ekonomi Jepang yang menunjukan kontraksi; belum adanya titik temu penyelesaian masalah anggaran di Uni Eropa setelah Italia meningkatkan proyeksi defisit terhadap PDB nya; hingga mulai adanya aksi beli USD pasca melemah dalam beberapa periode terakhir turut menekan Rupiah.

“Sentimen positif dari langkah kebijakan Bank Indonesia (BI), mulai dari intervensi dan lelang DNDF, intervensi pasar spot dan pembelian SBN di tengah gejolak kondisi global hingga pernyataan Menteri Keuangan, Sri Mulyani, yang akan fokus pada 6 hal dalma APBN 2019 belum cukup direspon baik oleh Rupiah,” ujar analis pasar modal, Reza Priyambada dalam keterangan yang diterima di Jakarta, Minggu (16/12).

Pelemahan Rupiah, lanjutnya, juga turut berimbas pada kondisi global a.l mundurnya Gubernur Bank of India, Urjit Patel, sehingga melemahkan Rupee dan berbalik menguatnya laju EUR seiring pemberitaan langkah PM Inggris, Theresia May, yang sedang mencari dukungan pada Uni Eropa untuk merubah kesepakatan Brexit yang baru.

Selain itu, berkurangnya kekhawatiran akan potensi perang dagang membuat laju USD bergerak turun namun, masih terbatas menyusul reaksi negatif atas sikap Presiden Trump yang akan menuntut Tiongkok atas tuduhan peretasan dan kegiatan spionase ekonomi AS dan adanya ancaman kepada Partai Demokrat yang akan menutup pemerintahan jika anggaran pembangunan dinding pembatas sepanjang perbatasan AS-Meksiko tidak disetujui.

Laju Rupiah sempat menguat terbantukan terapresiasinya EUR terhadap USD setelah ECB tidak merubah suku bunga acuannya dan mengumumkan akan mengakhiri kebijakan stimulus pembelian obligasi. Kembali munculnya kekhawatiran akan adanya perlambatan ekonomi global membuat risk appetite meningkat sehingga meningkatkan permintaan atas mata uang USD sebagai safe haven. Adanya rilis data-data ekonomi Tiongkok yang melambat membuat mata uang CNY bergerak turun. Begitupun dengan EUR yang juga turun setelah dirilisnya sejumlah data-data ekonomi beberapa negara di Benua Eropa yang mengindikasikan adanya penurunan. Akibat kedua mata uang tersebut melemah terhadap USD sehingga juga berimbas pada melemahnya Rupiah.

“Rupiah dalam seminggu diprediksi bergerak menuju middle bollinger band sejalan dengan sentimen yang ada dimana kurang mendukung potensi kenaikan Rupiah. Kondisi ini dapat kembali menyebabkan Rupiah berpotensi kembali melanjutkan pelemahannya. Apalagi jika sentimen yang ada tidak mendukung pergerakan Rupiah. Diharapkan masih adanya sejumlah senitmen positif untuk menahan pelemahan. Tetap cermati dan waspadai berbagai sentimen yang dapat kembali membuat Rupiah melemah, terutama jelang pertemuan FOMC di pekan depan dan sentimen dari dalam negeri. Diperkirakan laju Rupiah akan berada pada rentang support 14.540 dan resisten 14.525,” pungkasnya.

(Eka)