Jakarta, Aktual.com – Empat layanan digital karya anak bangsa disebut-sebut telah menjadi layanan berbasis online paling favorit pilihan milenial. Tentu saja hal ini menjadi sebuah pencapaian positif bagi Indonesia sebagai pasar besar. Sehingga bisa menjadi tuan rumah di negeri sendiri di era digital seperti saat ini.

Menurut Direktur Jenderal Aplikasi Informatika Kementerian Komunikasi dan Informatika, Semuel Abrijani Pangerapan, kondisi tersebut menjadi satu kebanggaan e-Commerce dalam negeri bisa menguasai pasar Indonesia.

“Meskipun untuk saat ini kita tidak bisa yang namanya anti impor. Harus siap dulu di dalam negeri. Itu yang harus diseimbangkan,” kata dia dalam seminar ‘e-Commerce Kita jadi Tuan Rumah di Negeri Sendiri’ di Jakarta, ditulis Rabu (10/7).

Semuel sepakat, Indonesia harus jadi tuan rumah di negeri sendiri pada era digital. Harapannya, beragam produk lokal yang bisa diperkuat dan menjadi keunggulan Indonesia bisa terserap dan bahkan mendunia.

”Kesenian, kerajinan, itu kekuatan Indonesia yang mungkin nggak ada di negara lain. Kita terus dorong. Jadi kita punya product unique-nya. E-Commerce ini harus jadi ‘bapak asuh’ bagi para perajin dan produsen yang tidak ditemukan di tempat lain. Sehingga marketnya akan sangat luas,” pintanya.

Semntara itu, CEO dan Founder Alvara Research, Hassanudin Ali mengimbuhkan, aplikasi-aplikasi asal Indonesia menjadi pemimpin di kategori masing-masing kecuali pada kategori online shopping. “Walaupun nilai aplikator Indonesia itu tidak jauh-jauh amat dibandingkan pemain global,” imbuhnya.

Pentingnya menjadi tuan rumah di negeri sendiri, kata Hasan, juga tak lepas dari besarnya potensi Indonesia saat ini dan masa mendatang.

Momentum dimana para milenial yang notabene digital natives itu lebih memilih aplikasi e-commerce buatan Indonesia. “Itu harus dijaga supaya Indonesia bisa menjadi pemain utama di era ekonomi digital tidak hanya menjadi pasar,” dia memaparkan.

Transaksi e-commerce di Indonesia diperkirakan mencapai US$ 130 miliar atau setara Rp 1.700 triliun pada 2020. Tentu ini berkembang pesat ketimbang di 2016 senilai US$ 20 miliar (Rp 261 triliun) dan di 2013 sebanyak US$ 8 miliar (Rp 104 triliun).

Kuatnya aplikator Indonesia di negeri sendiri yang dominan itu merupakan hasil penelitian berjudul ‘Perilaku dan Preferensi Konsumen Milenial Indonesia terhadap Aplikasi e-Commerce 2019’ oleh Alvara Research Center.

Penelitian itu menghasilkan lima kategori mobile e-commerce yang paling diminati para kaum muda. Terdiri atas layanan transportasi, pesan antar makanan, pemesanan hotel dan tiket, dan pembayaran.

”Sejak 2012 kami sudah mulai mengamati generasi milenial karena data BPS (Biro Pusat Statistik) yang dirilis 2011 lalu ada tren pergeseran demografi Indonesia yang luar biasa. Trennya, tahun 2020 nanti generasi milenial jumlahnya 34 persen (dari total populasi),” Hasan memaparkan.

Generasi milenial dimaksud adalah yang lahir mulai 1981 sampai 1997. ”Itu definisi yang dipakai di dunia. Walaupun ada juga yang menggunakan kriteria 1977 – 1995,” terusnya.

Aplikasi transportasi dengan penetrasi penggunaan oleh kaum milenial mencapai 96,4 persen menempati urutan tertinggi dibandingkan empat layanan digital lainnya. Tertinggi kedua adalah aplikasi layanan pesan antar makanan (87,8 persen) diikuti aplikasi belanja/shpping (76,9 persen), aplikasi pembayaran digital (30,0 persen), dan aplikasi pesan hotel/tiket (11,7 persen).

Secara rinci, Hasan menjabarkan, pada aplikasi layanan transportasi, GOJEK memimpin dengan angka mencapai 70,4 persen. Pesaingnya yaitu Grab meraih angka 45,7 persen. Di antara keduanya, tingkat heavy users atau pengguna sebanyak lebih dari sekali dalam seminggu mencapai 32 persen.

“Berarti, tiga dari 10 milenial itu pasti menggunakan transportasi online,” kata Hasan.

Pada aplikasi Pesan-Antar Makanan, GO-Food milik GOJEK juga memimpin dengan penetrasi penggunaan sebesar 71,7 persen. Posisi kedua ditempati GrabFood sebesar 39,9 persen.

“Konsumsi menggunakan aplikasi food cukup tinggi. Heavy users-nya mencapai 25,6 persen meskipun tidak sekuat transportasi. Jadi, satu dari empat responden pasti membeli makanan dari food application minimal sekali dalam seminggu,” Hasan menjabarkan.

Dari aspek penilaian brand asosiasi, GO-Food merupakan layanan pesan-antar makanan online dengan layanan cepat, murah, dan banyak pilihan menu. Sedangkan GrabFood asosiasinya banyak promo, layanan cepat, murah.

”GO-Food dianggap pelopor food delivery dan menjadi pemimpin pasar. Wajar karena biasanya setiap brand akan menikmati manfaat dari kepeloporannya,” tuturnya.

Pada aplikasi belanja (online shopping), Lazada memimpin dengan tingkat penggunaan sebesar 47,9 persen. Diikuti Shopee (32,2 persen), Tokopedia (15,4 persen), Bukalapak (14,4 persen), OLX (5,5 persen), Blibli (1,8 persen), dan Zalora (1,1 persen).

Pada aplikasi pembayaran digital, ekosistem GOJEK yaitu GO-Pay kembali memimpin dengan tingkat penggunaan sebesar 67,9 persen. Diikuti OVO (33,8 persen), Dana (8,5 persen), PayTren (1,2 persen), dan LinkAja (0,3 persen).

Pada aplikasi pesan hotel/tiket, Traveloka memimpin sebesar 79,0 persen. Unggul jauh dibandingkan Tiket.com (8,9 persen) dan Blibli (5,6 persen).

Untuk diketahui, riset Alvara dilakukan terhadap 1.204 responden (jumlah sampel) dengan metode interview face to face dan margin error 2,89 persen. Area riset mencakup Jabodetabek, Yogyakarta, Bali, kota Padang, dan kota Manado.

(Zaenal Arifin)