Jakarta, Aktual.co — Kapolri Jendral Sutarman mengaku gangguan keamanan dan ketertiban masyarakat (Kamtibmas) pada tahun 2014 menurun dibandingkan tahun sebelumnya. Menurutnya, pemeliharaan Kantibmas (Harkantibmas) berhasil menanggulangi berbagai konflik terjadi di Indonesia, termasuk pada masa Pemilu Legislatif (Pileg) dan Pemilihan Presiden (Pilpres) lalu.
“Tahapan Pemilu penuh kerawanan, lembaga survei terpecah, media terpecah, massa dan pendukung terpecah. Masing-masing mengklaim kemenangan sehingga menjadi kerawanan tersendiri. Polri dapat mengelolanya dengan baik serta mampu mengawal dan mengamankan  sehingga Pemilu berlangsung aman, tertib, berkualitas dan demokratis,” papar Kapolri Jenderal Sutarman dalam laporan akhir tahun di Mabes Polri, Jakarta Selatan, Selasa (30/12).
Sutarman menuturkan, tindak pidana Pileg mengalami penurunan dengan jumlah 362 kasus, dibanding Pemilu 2009 sebanyak 682 kasus. Sedangkan untuk tindak pidana Pilpres 2014 sebanyak 21 kasus, turun 58,8 persen dibanding Pilpres 2009 sebanyak 51 kasus.
“16 personel Polri gugur dalam tugaas pengamanan Pemilu.  Sejarah mencatat keberhasilan kehidupan berdemokrasi di Indonesia. Bahkan dunia belajar berdemokrasi dari Indonesia,” kata Kapolri.
Sementara mengenai penanganan konflik sosial berdasarkan UU No 7/2012 dan Inpres No 2/2013 yang diperbaharui dengan Inpres No 1/2014, dikatakan Kapolri  dillakukan dengan strategi pencegahan, penghentian dan pemulihan pasca konflik. Polri pungkas Sutarman menganalisa bahwa selama kurun waktu 2010-2013, konflik terjadi  di Indonesia setiap tahunnya rata-rata mengalami peningkatan sebesar 53,03 persen.
Namun pada tahun 2014, lanjut dia, konflik terjadi justru menurun secara drastis yaitu 65 kasus dibandingkaan sebelumnya sebanyak 164 kasus di tahun 2013. Konflik terjadi menurut Kapolri banyak dilatarbelakangi isu SARA dan kepentingan kelompok. “Jika dibandingkan tahun 2013 mengalami penurunan 60,4 persen,” jelas Sutarman.

Artikel ini ditulis oleh:

Nebby