Karyawan PT. RAPP, Irwan saat memamerkan madu lebah.
Karyawan PT. RAPP, Irwan saat memamerkan madu lebah.

Siak, Aktual.com – Humas Departemen SGR di PT Riau Andalan Pulp and Paper (RAPP), Irwan punya kisah menarik saat mempromosikan produk UMKM yakni madu lebah. Irwan mengungkapkan, lebah tersebut dimiliki oleh petani pada umumnya memanen nectar bunga pohon Akasia yang dimiliki oleh perusahaan PT RAPP.

Ia menambahkan bahwa madu yang di dapat dari kampung Dayun, Kecamatan Dayun Kabupaten Siak itu selalu memenuhi dinding di halaman media sosial yang dimilikinya.

“Saya sangat bersemangat kalau sudah cerita soal jualan madu ini. Bayangkan saja kalau dipikir dari hasil keuntungan mempromosikan madu ini mungkin kamu tidak percaya. Kalau kawan-kawan ingin tau madu itu saya dapat dari kampung Dayun. Saya tertarik mempromosikan madu lebah petani itu karena kebetulan tempat pertanian madu lebah itu berbatasan dengan wilayah milik PT. RAPP,” ujarnya kepada wartawan di Siak pada Rabu (1/12).

Ia pun bercerita, pada awalnya petani yang mengelola madu lebah tersebut adalah pesantren yang ada di Perawang tetapi para petani tersebut membuat tempat kotak-kotak madu lebahnya masuk di wilayah konsesi PT. RAPP yang di Dayun.

Oleh karena itu dengan pendekatan yang telah diajarkan oleh pendiri PT. RAPP, Sukanto Tanoto yang melaksanakan prinsip 5C yaitu praktek bisnis harus membawa kebaikan kepada masyarakat (Community), negara (Country), iklim (Climate), pelanggan (Customer), dan pada akhirnya akan membawa kebaikan bagi perusahaan (Company).

“Ketika saya ingin berhadapan dengan masyarakat saya selalu ingat apa yang saya baca tentang sejarah berdirinya PT. RAPP. Bapak Sukanto Tanoto menerapkan Prinsip 5C, Community, Country, Climate, Customer, Company, jadi saya percaya jika kita melakukan hal itu akan membuat masyarakat yang ada di sekitar wilayah PT. RAPP akan selalu merasakan manfaat dari adanya PT. RAPP yang ada di wilayah tempat tinggalnya, “tidak aka nada penolakan warga”, ujar Irwan dengan kumis tipis yang melakat disenyumnya.

“Jadi pesantren yang mengelola pertanian madu lebah itu kami ajak untuk berunding dan mencarikan solusi agar pertanian yang mereka kelola dan wilayah tempat mereka melakukan aktifitas pertanian madu tetap lanjut tanpa harus menempati wilayah konsesi PT RAPP. Alhamdulillah mereka mau, ha-ha-ha,” ucapnya sambil tertawa.

Menurutnya, hasil dari perundingan pertanian lebah madu tersebut dipindahkan ke tanah milik Mulyono tetapi masih berbatasan langsung dengan tanah milik RAPP sehingga lebah untuk mencari nektar masih mengambil dari pohon akasia yang ditanam oleh PT. RAPP karena petanian lebah hanya dibatasi oleh kanal yang dibuat oleh PT. RAPP

“Pak Mulyono ini memiliki kurang lebih tanah 200 hektar yang langsung berbatasan dengan PT. RAPP sehingga Mulyono mengizinkan pesantren tersebut berternak lebah di tanah yang dimilikinya”, jelas Irwan

Seiringnya waktu Mulyono yang masih berdomisili di Medan ingin mengelola madu lebah ini sendiri tanpa banyak menunggu Mulyono langsung membeli 1 ril madu lebah yaitu 162 kotak lebah madu yang di datangkan dari pulau Jawa yang nantinya akan menghasilkan madu untuk satu kotaknya di beli dengan harga 2 juta rupiah.

“Kotak madu itu langsung di datangkan dari pulau Jawa dan Mulyono wajib membeli 162 kotak karena penjual yang di jawa tidak mau menjual jika kurang dari itu” ungkap Irwan.

Akhirnya ternak madu lebah Mulyono bergabunglah dengan ternak madu yang dikelola oleh pesantren, tapi berjalannya waktu ternak madu lebah mulyono pecah kongsi dengan ternak madu lebah pesantren sehingga pengelolaan madu lebah sepenuhnya di kelola oleh Mulyono.

“Ternak madu lebah yang dibuat berdekatan dengan tanah PT. RAPP sangat menguntungkan petani karena lebah lebih dekat mencari nektar di pohon Akasia milik PT. RAPP dibandingkan ke hutan yang letaknya sangat jauh sehingga petani lebah sangat senang bertani madu lebah berdekatan dengan tanah milik PT. RAPP karena madu yang dihasilkan sangat banyak”, jelas Irwan

Mulyono yang telah lama bertani madu lebah kebingungan dalam pemasaran madunya, sehingga meminta bantuan Irwan yang merupakan karyawan PT. RAPP

“Saya dihubungi oleh Mulyono, dia meminta saya untuk membantunya dalam pengelolaan penjualan madu lebah dan sayapun menerima permintaan tersebut karena tugas saya sebagai humas memang bagaimana masyarakat terbantu dengan kehadiran PT. RAPP diwilayah mereka, juga sebagai karyawan juga senang dapat memajukan UMKM disekitar wilayah kerja saya yang nantinya akan membuat masyarakat sekitar mandiri dan sejahtera,” pungkas Irwan.

Mulyono menggunakan lahannya untuk madu lebah seluas 9 hektar sehingga memiliki hasil madu yang cukup banyak ketika dipanen. Besar kotak madu yang digunakan 60 x 40 cm dan alat yang digunakan untuk memanen sudah modern seperti extractor digunakan untuk memisahkan madu dari sarang, kotak plastik untuk mengambil sarang lebah dari kotak lebah, meja kerja berbahan alumunium, pengait untuk mengambil frame dari kotak lebah, derigen penampung madu, dan alat pelindung ketika memanen madu.

“Alat yang digunakan sudah modern sehingga ketika panen madu sangat mudah. Kalau ditanya kemana saja madu ini di jual jangan kaget, sementara masih local dan beberapa pembeli dari luar Riau,” jelas Irwan sambil meminum kopi ditangannya.

Mulyono seorang petani lebah memiliki 7 orang anak ini sangat berterima kasih kepada Irwansyah karena sangat membantu dalam penjualan madunya. Mulyono memilih bertani madu lebah karena memiliki resiko yang mudah dikendalikan dalam merawat maupun paska panen. Hasil produksi bisa disimpan dalam waktu yang cukup lama untuk melihat potensi harga pasar, juga tidak memerlukan waktu khusus yang menyita waktu keluarga, dan ternyata ini rezeki yang kasat mata dari Allah SWT karena kalau memelihara ternak lainnya, ternak itu beri makan maka ternak tersebut baru memberi hasil sedangkan lebah mencari makan untuk memberi hasil kepada petani.

“Saya senang dibantu oleh Irwan dalam memarketing madu yang telah saya jual. Saya memilih lokasi yang berdekatan dengan PT. RAPP karena memang kebetulan tanah milik sendiri, sangat berdekatan dengan sumber makanan lebah, dan jauh dari pemukiman warga,” jelas Mulyono.

Lebah madu yang didatangkan dari pulau Jawa itu berjenis Apis Mellifera, lebah ini dapat menghasilkan madu rata-rata 600 kg untuk 20 hari panen per satu koloni dengan total 168 kotak. Panen yang dilakukan sebulan sekali tersebut sangat bergantung kepada pohon akasia yang ditanam oleh PT. RAPP.

“Saya salut dengan Pak Irwan ini, kenapa? karena hasil penjualan madu kalau boleh dibilang mungkin sedikit yang untuk Pak Irwan, kebanyakan disumbangkan untuk pembangunan masjid dan membantu masyarakat yang susah,” tutup Mulyono.

(A. Hilmi)