Semarang, Aktual.com — Kasus kekerasan terhadap Angeline, seorang bocah berusia delapan tahun menjadi perhatian seluruh masyarakat Indonesia. Reaksi itu mengundang keprihatinan publik. Tak terkecuali duta perlindungan anak turun jalan di acara Car Free Day (CFD) di jalan Pahlawan Semarang, Minggu (21/6), sekitar pukul 07.00 WIB.

Duta anak mengajak para pengunjung CFD untuk membubuhkan tanda tangan di atas kain putih sepanjang 3 x 10. Aksi penggalangan itu sebagai bentuk dukungan kota layak anak yang dicanangkan Pemerintah Kota Semarang.

Bunda Duta Perlindungan Anak Jawa Tengah, Dewi Susilo Budiharjo mengatakan kota Semarang memang sudah layak dinyatakan sebagai kota layak anak. Apalagi terjadinya kasus Angeline di Bali mengundang keprihatinan masyarakat luas.

“Saya dukung sepenuhnya hak anak sesuai undang-undang untuk menjaga predikat Semarang sebagai Kota Layak Anak,” ujar dia.

Dengan adanya kasus tersebut, menurut Dewi, menunjukan bahwa selama ini anak-anak masih menjadi korban kekerasan. Hak-hak anak sesuai pasal 21 UU 35 tahun 2014 tentang perlindungan anak belum terpenuhi.

Menurut dia, kasus Angeline menyadarkan bahwa fakta kekerasan terhadap anak masih banyak terjadi. Meskipun kepolisian begitu cepat mengungkap kasus tersebut.

“Saya harap jangan sampai ada Angelie lainnya. Kita harus betul-betul menjaga anak dengan memberikan rasa nyaman dan aman,” papar dia.

Aksi mendukung kota layak anak, duta anak tak sendirian, melainkan didukung oleh jaringan jurnalis perempuan yang menyita perhatian pengunjung CFD. Terlihat, orang tua yang membawa anaknya berdatangan turut membubuhkan tandatangan mendukung Semarang menjadi Kota Layak Anak.

Menanggapi aksi itu, Sumarmo (56) warga jalan Gedong Songo Barat RT 08 RW 02 Manyaran mengalami kasus kekerasan terhadap anaknya yang hampir 6 tahun lamanya hingga kini belum terungkap.

“Saya sudah melapor kepada polisi, tapi katanya perampok itu sudah lari ke Lampung. Kemudian baru-baru ini ada kenalan polisi yang mengatakan pelakunya ke Medan. Polisi bilang tidak ada biaya, tapi saya tidak tahu benar atau tidak?” tanya dia.

Artikel ini ditulis oleh: