Jakarta, Aktual.co — Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Madrid, Spanyol, kembali membuka sasana pencak silat sebagai rangkaian promosi cabang olahraga asli Indonesia itu, untuk mendapatkan pengakuan Unesco dan bisa dipertandingkan di olimpiade.

Pembukaan sasana pencak silat itu, dilakukan langsung oleh Dubes RI untuk Madrid, Yuli Mumpuni Widarso, dan dihadiri oleh Ketua Federasi Pencak Silat Spanyol, Juan Barrenechea.

“Selain sebagai upaya promosi, pembukaan sasana pencak silat ini juga merupakan langkah awal dalam merealisasikan Memorandum of Understanding (MoU) tentang Kerja Sama Olahraga RI-Spanyol,” kata Yuli Mumpuni, melalui siaran pers yang diterima di Jakarta, Selasa (21/10).

Nota kesepahaman antara Indonesia dan Spanyol telah ditandatangani oleh Menpora, Roy Suryo dengan Sekretaris Negara Bidang Olahraga Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, dan Olahraga merangkap Ketua Dewan Tinggi Olahraga Spanyol, Miguel Cardenal Carro di Madrid, 1 Oktober lalu.

Dia mengharapkan dengan dibukanya kembali sasana pencak silat di KBRI, masyarakat, baik dari Indonesia maupun Spanyol yang menyukai olahraga asli Indonesia itu, kembali berlatih, baik hanya untuk menyalurkan hobi maupun menekuni olahraga bela diri tersebut.

“Sasana ini sebenarnya sudah ada sejak 1986 lalu. Hanya saja dalam beberapa tahun terakhir vakum. Dengan pembukaan kembali diharapkan bisa lebih baik lagi,” kata Yuli Mumpuni.

Pembukaan kembali sasana pencak silat KBRI Madrid, Sabtu (18/10), ditandai pemotongan tumpeng serta pelatihan yang dipimpin langsung oleh pendekar Juan Barrenechea.

Sambutan masyarakat, kata Yuli, juga dinilai tinggi.

Pencak silat di Spanyol sebenarnya sudah berkembang sejak 1984. Juan Barrenechea merupakan warga negara tersebut yang dinilai berjasa dalam mengembangkan cabang olahraga bela diri asli Indonesia itu, dan bahkan telah membentuk Federasi Pencak Silat Spanyol.

Selama Federasi Pencak Silat Spanyol berdiri, bahkan telah berhasil mengumpulkan 100 medali saat mengkuti kejuaraan pencak silat, baik di level Eropa maupun dunia, serta membina 25.000 murid di 24 negara, termasuk Spanyol.

()

()