Sementara untuk wilayah Bali dan Nusa Tenggara pertumbuhan ekonomi per kuartalnya sepanjang tahun ini juga turun. Masing-masing sebesar 10 persen, 5 persen, dan 3 persen.

“Jadi jangan mimpi macam-macam dulu. Karena ekonomi kita faktanya makin kontet (stanting). Hanya Jawa-Sumatera yang stabil. Ini artinya, karena peredaran uang ya berada di situ-situ juga dan tak jauh beda dari sebelumnya,” cetus Faisal.

Kondisi ini, kata dia, karena ada yang salah dengan perekonomian ekonomi nasional di bawah Jokowi ini. “Ada yang salah dalam strategi ekonomi Jokowi ini. Bikin negara lebih dominan dan kawasan timur lebih sengsara. Tolong, sektor keuangan seperti perbankan diajak bicara. Agar sektor keuangan menyebar. Jangan cuma disuruh untuk penugasan terus, untuk membiayai LRT harus bank BUMN. Kalau tak mau, direksinya diganti,” kritik dia.

Padahal sektor keuangan ini berperan besar dalam perekonomian. Tapi cuma sebanyak 4,25 persen porsi sektor ini ke PDB. “Masih kalah dari pertanian dan manufaktur. Itu di PDB kerdil atau dikerdilkan. Padahal keuangan dan asuransi sudah digabung,” papar Faisal.

Laporan: Busthomi

()

(Andy Abdul Hamid)