Jakarta, Aktual.co — Penyidik Kejaksaan Agung telah mengeluarkan surat pencekalan untuk tiga orang tersangka dugaan korupsi penjualan aset Patal Bekasi senilai Rp 60 miliar.
Ketiga orang tersangka yang dicekal yakni pihak PT ISN yakni, Leo Pramuka selaku Direktur Utama, Widjaja Kresno Brojonegoro selaku Direktur Keuangan dan seorang karyawan bernama Efrizal.
“Sudah dicekal ketiga tersangkanya,” kata Kasubdit Penyidikan Tindak Pidana Korupsi Kejagung Sarjono Turin, di Kejaksaan Agung, Jakarta, Senin (24/11).
Dia menegaskan saat ini tim penyidik tengah melakukan menghitung kerugian negara akibat dari penjualan aset Patal Bekasi tersebut.”Jalan terus penyidikannya, menghitung  kerugian negera, karena itu mark down, jadi mencari pembanding.”
Kendati demikian, saat disinggung kenapa ketiga tersangka tersebut belum dilakukan penahanan, Turin menjawab diplomatis. “Belum ditahan, tapi sudah dicekal, tunggu saja.”
Sementara, Jaksa Agung HM Prasetyo mengaku, siap membedah seluruh perkara yang ditangani Kejagung. Baik perkara mandek, maupun baru yang masih dalam tahap progres.
“Tadi sudah saya bicarakan dengan teman-teman‎ para jaksa muda ya, kita akan segera inventarisir itu, untuk secepatnya kita lakukan penelitian lagi. Yang tentunya kita segera akan tindak lanjuti,” kata Prasetyo.
Sebagai langkah awal, Prasetyo lebih dulu melakukan diskusi kepada seluruh jajaran di Korps Adhyaksa. Itu dalam rangka, mengatasi segala kendala yang selama ini dialami penyidik Kejagung. “Intinya semua penanganan hukum menjadi prioritas kita. Semua akan kita kerjakan secara bersamaan.”
HARUS SEGERA DITAHAN
Sementara, Direktur Investigasi dan Advokasi Forum Indonesia untuk Transparansi Anggaran Uchok Sky Khadafi menilai tidak ditahannya tersangka korupsi Patal Bekasi menandakan Kejaksaan Agung tidak serius dalam memberantas tindak pidana korupsi. 
“Harus ditahan, tapi saya ragu Jaksa Agung berani lakukan penahanan terhadap tersangka kasus lama mangkrak,” katanya saat dihubungi, di Jakarta.
Oleh karena itu, lanjut Uchok, pihaknya menunggu gebrakan Jaksa Agung Baru HM Prasetyo dalam menuntaskan seluruh kasus khususnya tindak pidana korupsi diintitusi yang dipimpinannya.
“Ini kita tunggu keberanian jaksa agung, karena udah jadi tersangka kenapa lama-lama tidak ditahan.”
Sebelumnya, Kejagung mengisyaratkan akan menahan tersangka, meski belum melakukan pencekalan ataupun pencegahan terhadap mereka. “Kita tunggu saja, semuanya masih berjalan dan berproses. Saya sudah panggil tim penyidiknya untuk mempercepat penangannya,” kata Direktur Penyidikan pada Jampidsus, Suyadi. 
Suyadi menegaskan saat ini penyidik tengah berkordinasi dengan Badan Pertanahan Nasional dan Badan Pengawas Keuangan dan Pembangunan untuk menentukan nasib ketiga tersangka. 
“Dia (Kordinator penyidik) baru minta keterangan dari BPN, kalau sudah baru minta keterangan dari BPKP. Ini tergantung hasil keterangan BPN (ditahan atau tidak),” ungkapnya.
Setelah berkordinasi dengan BPN dan BPKP, lanjut Suyadi, pihaknya baru menentukan langkah berikut untuk ditahan atau tidaknya tersangka. “Tunggu saja, Kita ikuti dulu prosesnya, semua ada prosesnya.”
Diketahui, Kasus ini terjadi pada 2012 ketika penjualan aset PT ISN berupa tanah Patal Bekasi seluas kurang lebih 160 hektar dijual seharga Rp160 miliar untuk untuk membangun 286 rumah mewah, 433 unit rumah kantor (rukan), apartemen dan mal, serta sport centre.
Bertindak sebagai developer PT Arta Bangun Persada dan peletakan batu pertama oleh Wali Kota Bekasi Rahmat Effendi, 12 Desember 2012 lalu. Dalam praktiknya, penjualan aset tidak sesuai ketentuan harga pasar sehingga mengakibatkan kerugian negara sebesar Rp60 miliar.

()

(Wisnu)