Jakarta, Aktual.co — Pihak Kementerian Dalam Negeri Afganistan menegaskan, Farkhunda yang tewas setelah dipukuli dan dibakar oleh massa karena dituduh membakar Al-Qur’an, ternyata tidak bersalah.

Farkhunda dibunuh pada Kamis (19/3) waktu setempat, oleh massa yang marah di Kabul tengah, karena dituduh membakar kitab suci umat Islam.

“Tuduhan terhadapnya tidak benar. Farkhunda adalah seorang gadis yang relijius, ia tidak terlibat (dalam pembakaran Al Quran), ia tidak bersalah,” kata Menteri Dalam Negeri Noorulhaq Ulumi dalam sesi dengar pendapat di parlemen, dikutip AFP, Senin (23/3).

“Adalah sangat menyakitkan bahwa kita tidak mampu melindungi seorang anak muda yang salehah. Kami berharap hal ini tidak akan terulang lagi,” tambahnya menyayangkan.

Rekaman serangan tersebut yang tersebar di media sosial menunjukkan beberapa polisi tak berseragam hanya melihat, ketika massa memukuli Farkhunda (27) hingga tewas sebelum kemudian membakar mayatnya dan membuangnya ke sungai Kabul.

Dalam sebuah pernyataan, Minggu (22/3), Kementerian Dalam Negeri mengatakan telah menskors 13 anggota polisi, termasuk kepala polisi yang bertanggung jawab di wilayah itu. Lebih dari selusin orang juga ditahan terkait insiden tersebut.

Sejumlah orang pada Senin memprotes aksi pembunuhan di Kabul itu dan menuntut pemerintah menyeret para pelakunya ke pengadilan.

Para pengunjuk rasa berjalan di depan masjid dan sepanjang sungai dekat lokasi Farkhunda dipukuli sampai mati.

“Kami minta pemerintah menahan dan menyeret ke pengadilan setiap individu yang terlibat dalam pembunuhan Farkhunda,” kata seorang pemrotes Maliha Akhawan.

Sebagian perempuan mengenakan topeng bergambar wajah Farkhunda yang berdarah seperti yang tersebar luas di media sosial.

Jasad Farkhunda diusung ke pemakaman oleh kaum perempuan di tengah-tengah kerumunan kaum lelaki dan dimakamkan di Kabul, Minggu waktu setempat.

Tuduhan pembakaran Al Quran sebelumnya telah memicu beberapa insiden kekerasan di Afghanistan.

Pada 2012, terungkapnya laporan bahwa sejumlah Al Quran telah dibakar di penjara Bagram yang dikendalikan AS memantik kerusuhan anti-AS selama lima hari dan berbagai serangan di seluruh negeri yang menewaskan 30 orang.

Artikel ini ditulis oleh: