Jakarta, Aktual.com – Perdagangan nilai tukar rupiah mengacu pada data Bloomberg ditutup pada posisi Rp13,993 yang sebelumnya berada di atas level Rp14.000. Adanya keputusan Bank Indonesia (BI) untuk menaikkan suku bunga acauan 25bps sedikit berpengaruh terhadap nilai tukar rupiah.

“Adanya RDG BI insidentil di bawah Gubernur BI yang baru, Perry Warjiyo, memutuskan untuk menaikan suku bunga acuannya sebesar 25 bps menjadi 4,75 persen tampaknya sudah price in. Pelaku pasar sudah memperkirakan sebelumnya. Alhasil, Rupiah pun tidak banyak mengalami pergerakan,” ujar analis Binaartha Institute, Reza Priyambada di Jakarta, Kamis (31/5).

Menurutnya, harapan untuk mengalami kenaikan pun juga tidak terjadi seiring sudah ter- price in nya sentimen tersebut.

“Pergerakan Rupiah lebih banyak merespon negatif kondisi global dimana laju EUR mengalami penurunan dibandingkan USD setelah pelaku pasar mengkhawatirkan kondisi politik di Italia. Fluktuasi Rupiah yang cenderung berkurang diharapkan masih membuka peluang Rupiah untuk kembali menguat,” jelasnya.

Selain itu, lanjutnya, diharapkan sentimen dari dinaikannya suku bunga acuan dapat direspon positif untuk membuka peluang kenaikan Rupiah. Di sisi lain, pergerakan USD di pasar valas global cenderung berbalik melemah setelah EUR menguat. Penguatan EUR terjadi setelah adanya potensi dilakukannya refrendum dan koalisi partai untuk mengatasi kemelut politik di pemerintahan Italia.

“Tetap cermati berbagai sentimen yang dapat menahan kenaikan lanjutan dari Rupiah maupun sentimen yang dapat membuat Rupiah kembali melemah. Adapun Rupiah diestimasikan akan bergerak dengan kisaran support Rp13.970 dan resisten Rp13.988,” pungkasnya.

(Eka)