Direktur Jenderal Bea Cukai, Heru Pambudi (ketiga kiri) didampingi jajarannya memberikan penjelasan terkait dengan pemberitaan yang beredar bahwa KPK yang melakukan penggeledahan Kantor Pusat Bea Cukai, Jakarta, Senin (6/3/2017). Heru Pambudi menjelaskan bahwa Tim penyidik KPK mengunjungi Kantor Pusat Bea Cukai dalam rangka melakukan koordinasi. AKTUAL/Munzir

Jakarta, Aktual.com – Kementerian Keuangan terus menelurkan kebijakan yang membebani masyarakat. Di saat perekonomian masih lesu, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati ternyata terus mencari penerimaan secara serampangan, baik itu dari sektor pajak atau pun cukai.

Kini, Sri Mulyani ingin kembali menghidupkan wacana cukai plastik yang dulu sempat diprotes. Hal ini dilakukan pemerintah karena anggaran APBN terus mengalami defisit yang cukup lebar.

Anak buah Sri Mulyani, Direktur Jenderal (Dirjen) Bea dan Cukai Kementerian Keuangan, Heru Pambudi terus ngotot dan mengaku tidak akan mengendurkan upaya agar plastik bisa dikenai tarif cukai.

“Kita tetap berusaha untuk mendorong hal itu. Bahkan target pemerintah tak cuma mau mengenakan tariff cukai ke plastic, tapi juga ada alternative lain,” jelas Heru di Jakarta, Jumat (27/10).

Alternatif lain barang yang kena cukai, disebut dia, tengah dipersiapkan pemerintah. Salah satunya produk minuman berpemanis yang peredarannya dianggap perlu dikendalikan. Dalih pemerintah, pengenaan tarif cukai itu untuk mengendalikan peredaran barang-barang pemanis yang berbahaya itu.

“Itu baru wacana yang lainnya seperti kita bagaimana kendalikan atau bagaimana pemerintah bisa kurangi penyakit misalnya obesitas atau gula,” klaim dia.

Sebelumnya, Sri Mulyani menyebutkan, pemerintah dalam rencana ingin mengenakan tarif cukai itu sudah melakukan sosialisasi yang panjang. “Kami selama ini melihatnya bagaimana waktunya tidak mengganggu momentum positif di perekonomian,” klaim Menkeu.

Dia mengkau cukup prihatin dengan perekonomian nasional yang masih lesu. Sehingga pemerintah tidak ingin pengenaan cukai plastic malah menyebabkan tekanan terhadap perekonomian.

“Waktu ekonomi alami tekanan bertubi-tubi dari harga minyak, komoditas, ekspor melemah. Kami tidak mau menciptakan tambahan beban yang membebani ekonomi itu sendiri,” klaim Menkeu lagi.

(Reporter: Busthomi)

(Ismed Eka Kusuma)