Mudir JATMAN DKI Jakarta KH. Muhammad Danial Nafis, dalam Haul Musnidul ‘Ashr Syeikh Muhammad Yasin bin Muhammad Isa Al-Fadani di Zawiyah wa Ma’had Arraudhah Tebet, Jakarta Selatan, Selasa (17/8). Haul Syeikh Muhammad Yasin, menjadi agenda rutinitas setiap tahun yang digelar oleh Zawiyah Arraudhah Ihsan Foundation bersama Jam’iyyah Ahlith Thoriqoh Al-Mu’tabaroh An-Nahdliyyah (JATMAN). Foto: AKTUAL / WARNOTO
Mudir JATMAN DKI Jakarta KH. Muhammad Danial Nafis, dalam Haul Musnidul ‘Ashr Syeikh Muhammad Yasin bin Muhammad Isa Al-Fadani di Zawiyah wa Ma’had Arraudhah Tebet, Jakarta Selatan, Selasa (17/8). Haul Syeikh Muhammad Yasin, menjadi agenda rutinitas setiap tahun yang digelar oleh Zawiyah Arraudhah Ihsan Foundation bersama Jam’iyyah Ahlith Thoriqoh Al-Mu’tabaroh An-Nahdliyyah (JATMAN). Foto: AKTUAL / WARNOTO

Jakarta, aktual.com – Haji merupakan salah satu rukun Islam yang wajib dilaksanakan bagi setiap orang Muslim yang telah mampu secara finansial dan fisik untuk melaksanakannya.

Syekh Abdul Qadir al-Jailani dalam kitabnya yang berjudul Sirrul Asrar membagi haji menjadi dua bagian, haji syariat dan haji tarekat. Haji Syariat ialah melaksanakan ibadah haji dengan melakukan syarat-syarat dan kewajibannya. Termasuk di dalamnya tahallul.

KH. Muhammad Danial Nafis dalam pengajian rutin Selasa malam menjelaskan bahwa tahallul dalam haji syariat dan haji tarekat berbeda.

“Tahallul dalam haji tarekat itu melakukan penghalalan diri dari yang sebelumnya diharamkan dengan menukar sifat buruk dengan sifat baik,” ucapnya pada Selasa (12/10) malam.

Selanjutnya, Kyai Nafis menerangkan bahwa yang menggantikan sifat-sifat buruk seorang hamba kepada sifat-sifat baik bukanlah dirinya, melainkan Allah Swt semata.

“Allah-lah yang menggantikan sifat-sifat buruk seorang hamba dengan kebaikan, maka dari itu janganlah merasa dirimu melakukan kebaikan-kebaikan,” tegas Kyai Nafis.

Terakhir, beliau menegaskan bahwa dalam kacamata ahli tarekat kemaksiatan terbesar yaitu saat seseorang merasa dirinyalah yang melakukan kebaikan-kebaikan bukan sebab Allah Swt.

“Dari sisi Ahli Tarekat, melakukan perbuatan merasa bahwa dirinya yang melakukan ibadah adalah kemaksiatan,” ungkap Kyai Nafis.

(Rizky Zulkarnain)