Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI), Tito Sulistio (kedua kiri) didampingi Direktur Penilaian Perusahaan BEI, Samsul Hidayat, Direktur Pengawasan Transaksi dan Kepatuhan BEI, Hamdi Hassyarbaini, serta Direktur Pengembangan BEI, Hosea Nicky Hogan saat memberikan penjelasan pada jumpa pers di Galeri BEI, Jakarta, Kamis (27/8). Bursa Efek Indonesia (BEI) menemukan ada 14.000 transaksi kena batas bawah auto rejection. Enam Anggota Bursa (AB) dicurigai lakukan short selling. Tito mengaku tak habis pikir ada sejumlah perusahaan raksasa yang mengeruk begitu banyak sumber daya alam di Indonesia tapi mencatatkan sahamnya di luar negeri. AKTUAL/EKO S HILMAN

Jakarta, Aktual.com — PT Bursa Efek Indonesia (BEI) mengakui kasus teror bom di beberapa lokasi di Jakarta telah berdampak negatif terhadap perdagangan di BEI. Dalam sesi penutupan perdaganagn sesi pertama, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melorot 1,7 persen.

Sebagaimana diketahu, sejak pembukaan perdagangan hari ini IHSG dibuka melemah dan semakin melemah menjelang penutupan Sesi I perdagangan dan akhirnya ditutup di zona merah pada level 4.459 atau melemah 1,7 persen.

“Tapi kami melihat ini (teror bom di Jakarta) hanya shock sementara. Karena, hari ini orang juga tidak kemana-mana,” kata Direktur Penilaian Perusahaan BEI, Samsul Hidayat, di Jakarta, Kamis (14/1).

Namun, meski ia mengakui berdampak cukup besar, dirinya minta pasar tidak terlalu mengkhawatirkan. “Tidak ada yang perlu dikhawatirkan dari ledakan bom ini,” katanya.

Ia kembali menambahkan, pada perdagangan besok (15/1), ia yakin, laju IHSG akan bergerak lebih stabil karena tingkat kepercayaan publik kembali pulih.

“Sudah ada ketentuan khusus dari pemerintah, ketika ada suatu yang urgent, maka pemerintah langsung bergerak cepat. Tentu hal itu akan membuat pasar lebih confidence. Semoga bisa lebih confidence lagi,” tutupnya.

Laporan: Busthomi

(Arbie Marwan)