Ilustrasi- Seseorang sedang melakukan dzikir

Jakarta, aktual.com – Dzikir merupakan sebuah aktivitas dengan menyesesuaikan pikiran, lisan, serta hati untuk mengingat Allah Swt.

Dzikir juga bisa menandakan bahwa seorang mukmin beriman kepada Allah, terbebas dari sifat munafik serta perisai dari gangguan setan dan juga benteng dari panasnya api Neraka. sebagaimana yang disampaikan oleh Anas bin Malik,

قال انس بن مالك رضي الله عنه:
ذكر الله علامة على الإيمان ، وبراءة من النفاق ، وحصن من الشيطان ، وحرز من النار

“Dzikir kepada Allah adalah tanda atas iman, kebebasan dari munafik, perisai dari setan dan benteng dari Neraka.”

Selain dari itu, Faidah berdzikir sangatlah banyak. Salah satunya terdapat dalam sebuah kisah yang diceritakan oleh Hamid al-Aswad.

Suatu ketika, Hamid al-Aswad sedang pergi bersama gurunya yaitu Syekh Ibrahim al-Khawash. Ketika telah sampai di suatu tempat, ternyata tempat tersebut dipenuhi oleh ular.

Syekh Ibrahim al-Khawash dengan tanpa rasa takut meletakkan bejana yang berisi air kemudian duduk di daerah tersebut.

Ketika malam telah tiba dan udara terasa dingin ular-ular mulai keluar dari sarangnya. melihat ular-ular tersebut Hamid al-Aswad berteriak kepada gurunya. Sang guru dengan tenang berkata kepadanya, “Berdzikirlah kepada Allah,”.

Lalu ia pun berdzikir dan ular-ular tersebut kembali ke sarangnya.

Setelah melihat ular-ular tersebut kembali ke sarang, Hamid al-Aswad berhenti dari berdzikir. Akan tetapi ketika ia berhenti, ular-ular itu kembali berdatangan. lantas sang Syekh kembali memerintahkan Hamid al-Aswad untuk kembali berdzikir.

Begitu terus keadaan mereka berdua di tempat tersebut hingga pagi tiba.

Di pagi hari, ketika keadaan sudah membaik mereka berdiri dan berjalan meninggalkan tempat tersebut.

Ketika Syekh Ibrahim al-Khawash berdiri jatuhlah seekor ular besar telah melingkari tubuhnya semalaman. Lantas Hamid al-Aswad kaget dan bertanya kepadanya, “Engkau tidak merasakannya?”

“Tidak, kecuali baru saja, dan tak pernah kurasakan malam yang lebih baik daripada semalam,” jawab sang Guru.

Begitulah Dzikir, ketika seseorang telah menyesuaikan pikiran, lisan serta hatinya kepada Allah Swt ia tidak merasakan apapun kecuali kehadiran Allah Swt di dalam hatinya.

ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكْرِ ٱللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ ٱللَّهِ تَطْمَئِنُّ ٱلْقُلُوبُ

“(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d: 28).

Waallahu a’lam

(Rizky Zulkarnain)