Jakarta, aktual.com – Imam Syafi’i dilahirkan di Ghaza pada tahun 150 Hijriyah, Nama lengkapnya adalah Abu Abdillah Muhammad bin Idris Asy-Syaff’i.

Jauh sebelum imam Syafi’i lahir, Rasulullah Saw sudah memberi isyarat akan lahirnya seorang tokoh yang sangat alim dan bertakwa kepada Allah Swt. Dalam sebuah hadits Nabi memberi isyarat:

“Janganlah kamu sekalian mencari suku Quraisy, karena sesungguhnya seorang tokoh ilmunya memenuhi penjuru dunia,”

Para Ulama’ Hadits sepakat, bahwa sosok yang dimaksud Nabi itu ialah Imam Syafi’i. Terbukti pada umur 9 tahun beliau sudah hafal Al-Ouran. Umur 10 tahun hafal kitab Muwatto’ karya Imam Malik guru beliau, yang beliau hafal dalam waktu hanya 9 hari, sukses dalam meraih berbagai bidang ilmu, terlebih dibidang Fiqih.

Dalam satu kisah disebutkan bahwa Imam Syafi’i mempunyai penyakit yang membuat darahnya mengucur deras. Penyakit yang disebut wasir/ambien ini sudah bertahun-tahun dideritanya. Tetapi beliau tetap istiqomah dalam mengajarkan ilmu agama, meski tempat duduk beliau dipenuhi darah. Salah satu murid beliau Al-Muzani menjenguk dikediaman beliau,

“Bagaimana keadaan anda sekarang?” tanya Al-Muzani pada Imam Syafi’i.

“Sekarang aku akan pergi meninggalkan kehidupan dunia, sungguh aku tidak tahu apakah jiwaku akan pergi ke surga atau ke neraka,”. jawab beliau dengan aliran air mata yang membasahi pipi beliau.

Malam Jumat akhir bulan Rajab 204 Hijriyah, setelah sholat Isya’ beliau menghembuskan nafas terakhir di sisi santri dekat beliau yang setia khidmah pada beliau pagi dan malam, yaitu Robi’ bin Sulaiman.

(Rizky Zulkarnain)