Ilustrasi- Seseorang sedang merenung akibat sering bermaksiat

Jakarta, Aktual.com– Nabi Isa ‘alaihi salam yang menjadi seorang rasul sebelum Nabi Muhammad SAW memiliki kaum yang dinamai Hawariyun. Suatu ketika, ada seseorang yang bukan termasuk dari kaum Nabi Isa, yang suka sekali bermaksiat. Akan tetapi, Ia memiliki kebiasaan yang berbeda. Dia sangat suka melihat Nabi Isa dan pengikutnya lewat karena kebaikan yang mereka lakukan.

Pelaku maksiat ini sangat sungkan bertemu dengan Nabi Isa karena merasa dirinya rendah dan sering melakukan kemaksiatan. Sehingga keinginannya untuk bertemu Nabi Isa hanya bisa ia simpan.

Suatu ketika, ketika pelaku maksiat ini melihat Nabi Isa dan rombongannya, tiba-tiba dia berjalan mengikut rombongan tersebut. Karena perasaannya yang sungkan, ia lebih memilih berjalan di belakang dan agak menjauh dari Nabi Isa agar tidak dilihat oleh beliau.

Disaat yang sama, ada pengikut Nabi Isa yang merasa dirinya lebih baik dari si pelaku maksiat sehingga tak mau berjalan dekat dengan laki-laki tersebut. Pengikut Nabi Isa lebih memilih maju ke depan agar ia bisa berjalan dekat dengan Nabi Isa.

Karena hal tersebut, turunlah wahyu yang diberikan kepada Nabi Isa yang berbunyi, “Wahai Isa, semua amal ibadah pengikutmu yang sombong itu kuhapus karena kesombongannya. Dia merasa dirinya lebih baik dari orang lain. Dia harus melakukan kebaikan lagi mulai dari awal. Dan dosa pelaku maksiat itu kuampuni karena dia merasa dirinya hina di hadapan orang lain.”

Dari kisah di atas, kita dapat mengambil sebuah pelajaran bahwa jangan pernah merasa diri lebih baik dengan orang lain dan jangan sekali-sekali memandang seseorang buruk. Karena, kita tidak akan tau apa yang akan terjadi kepada kita. Bisa saja Allah mengampuni semua perbuatan orang yang kita anggap buruk dan Allah menambah dosa karena mencemooh serta merasa sombong kepada orang lain.

Waallahu a’lam

(Rizky Zulkarnain)

(Arie Saputra)