Jakarta, Aktual.com – Pada suatu hari dikisahkan, ketika Imam al-Ghazali sedang menulis kitab, di mana saat itu, orang-orang pada umumnya saat menulis menggunakan tinta dan sebatang pena. Pena itu harus dicelupkan terlebih dahulu kedalam tinta hingga kemudian dipakai untuk menulis, dan jika sudah habis pena itu di celup lagi dan menulis lagi. Begitu seterusnya.

Ditengah kesibukan menulis itu, tiba-tiba terbanglah seekor lalat dan hinggap di mangkuk tinta Imam al-Ghazali. Lalat itu tampaknya sedang kehausan. Ia meminum tinta di mangkuk itu.

Melihat lalat yang kehausan itu, Imam al-Ghazali membiarkan saja lalat itu meminum tintanya. Mengingat, lalat juga makhluk Allah yang harus diberikan kasih sayang, pikir Al-Ghazali.

Ketika Al-Ghazali wafat, selang beberapa hari kemudian, seorang ulama yang merupakan sahabat dekat beliau bermimpi. Dalam mimpi itu terjadilah dialog. Sahabatnya itu bertanya, ”Wahai Hujattul Islam, apa yang telah diperbuat Allah kepadamu?“

Al-Ghazali menjawab, ”Allah telah menempatkanku di tempat yang paling baik.“

“Gerangan apakah sampai engkau ditempatkan Allah ditempat yang paling baik itu? Apakah itu karena kealimanmu dan banyaknya kitab-kitab bermanfaat yang telah kau tulis?” tanya sahabatnya.

Al-Ghazali menjawab, ”Tidak, Allah memberiku tempat yang terbaik hanya karena pada saat aku menulis (kitab) aku memberikan kesempatan kepada seekor lalat untuk meminum tintaku karena kehausan. Aku lakukan itu karena aku sayang pada makhluk Allah.“

Saudaraku, dari kisah sufi tersebut memberikan kita hikmah bahwa dengan menolong sesama mahluk ciptaan Allah, maka Allah akan melipatgandakan balasan yang baik bagi hamba-hamba-Nya. Bayangkan hanya sekedar membiarkan lalat yang kehausan untuk minum saja, menjadikan seseorang masuk surga, apalagi memberi makan kepada sesama manusia, bersedekah bagi sesama yang benar-benar membutuhkan.

Oleh sebab itu, jangan begitu saja menyepelekan amalan-amalan yang bernilai kecil, karena meskipun hanya sebesar dzarroh (biji bayam), hal itu juga akan diperhitungkan di akhirat kelak.

Allah SWT berfirman: ”Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula.” (QS. 99: 7-8)

()