Denpasar, Aktual.com – Kolaborasi kesenian Jepang dan Bali diharapkan mampu memberi inspirasi dan motivasi seniman Pulau Dewata, untuk menciptakan karya seni yang bermutu dan memiliki nilai seni yang tinggi.

“Upaya itu sangat penting dalam menjaga dan melestarikan seni budaya Bali, sehingga tetap kokoh dan eksis,” kata Gubernur Bali Made Mangku Pastika ,ketika menyaksikan kolaborasi Kesenian Jepang Hayachine Take Kagura dengan Tari Barong Bali kampus Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar, Selasa malam (1/9).

Ia mengharapkan adanya kolaborasi tari Jepang dan Bali mampu mendorong seniman Bali untuk lebih kreatif.

Menurutnya seniman adalah sosok yang bukan manusia biasa, karena memiliki rasa yang mampu menciptakan sebuah kreativitas itu sendiri.

“Seniman itu bukan manusia biasa, jadi kalau ada tiga kelompok manusia, yang pertama memakai logika itu manusia biasa, hanya pakai otak, tapi satu tingkat di atas itu adalah seniman karena mereka tidak hanya memakai otak namun juga memakai rasa, satu kali lagi dia naik maka dia akan menjadi spiritualis,” jelas Gubernur Pastika.

Ia mengharapkan kedepannya Bali terus akan berkembang dan terus diperkaya oleh masuknya unsur-unsur seni dan budaya dari negara lain sehingga menjadi lebih baik dan memperkaya khasanah seni dan Budaya yang ada di Pulau Dewata.

“Saya yakin kualitas kita akan menjadi lebih baik dengan masuknya kesenian-kesenian sakral dari seluruh dunia, karena seni dapat memperhalus jiwa manusia,” ujar Gubernur mangku Pastika.

Sementara itu Rektor ISI Denpasar I Gede Arya Sugiartha memaparkan bahwa pementasan kolaborasikan kesenian klasik Jepang yakni Hayachine Take Kagura dengan Tari Barong merupakan gagasan dari Konsulat Jenderal Jepang yang ada di Bali melalui Organizing Committee of Take Kagura Indonesia.

“Hayachine Take Kagura adalah sebuah tarian dan musik tradisional yang dipertunjukkan di tempat pemujaan untuk dipersembahkan kepada Dewa. Take Kagura merupakan salah satu Kagura (topeng, red) yang dipertahankan oleh kelompok pelestarian Take Kagura selama lebih dari 500 tahun di sebuah dusun bernama Take yang berada di kaki Gunung Hayachine yang tingginya 1,917 meter dari permukaan laut di Iwate, Jepang.

Take Kagura ditetapkan sebagai warisan budaya rakyat bukan benda oleh Pemerintah Jepang pada tahun 1976 dan dipertunjukkan di berbagai tempat di seluruh Jepang. Selain di Jepang, Take Kagura juga dipertunjukkan di luar negeri seperti di Kanada, Perancis (dua kali), AS, Rusia, Korea Selatan dan India sejak 1990, dan terdaftar sebagai “warisan budaya rakyat bukan benda” UNESCO pada tahun 2009.

Ia mengharapkan hubungan yang terjalin semakin erat antara Jepang dengan Indonesia khusunya Bali dalam bidang seni dapat dipelihara dan ditingkatkan.

(Ant)

()