Semarang, Aktual.co — Aktifis anti korupsi yang tergabung dalam Komite Penyilidikan Pemberantasan Kolusi, Korupsi dan Nepotisme (KP2KKN) Jawa Tengah, menggelar tradisi budaya ruwatan yang ditujukan kepada anggota DPRD Provinsi Jawa Tengah di halaman pintu keluar gerbang kantor DPRD setempat, jalan Pahlawan, Semarang, Senin (29/12).

Tradisi yang dilestarikan masyarakat Jawa itu dimaksudkan untuk memperingati hari Anti Korupsi se-Dunia dan sekaligus HUT Komisi Pemberantasan Korupsi yang jatuh setiap tanggal 29 Desember. Aksi itu diwarnai tabur bunga mawar merah dengan membentangkan spanduk bertuliskan “Demokrasi Tanpa Korupsi” yang dipancang di pintu gerbang setempat.

“Aksi ruwat ini kami tujukan antara eksekutif dan anggota DPRD, supaya betul-betul bersih di tahun 2015 nanti. Meski hari anti korupsi sudah lewat, tapi tidak menjadi persoalan,” terang Koordinator KP2KKN Jateng, Eko Haryanto sambil duduk membaca mantra.

Sebelumnya, mereka membentangkan spanduk berukuran 5 x 5 meter. Selanjutnya, dua aktifis yang mengenakan ikat kepala layaknya ritual budaya Bali itu menabur bunga sambil membakar kemenyan.

Dalam aksinya, Eko menegaskan ruwatan ini bertujuan supaya mengingatkan kepada eksekutif dan legislatif untuk selalu memerangi korupsi.

Pada 2015, ia mensinyalir di Jateng terdapat empat trends rawan korupsi. Pertama, Pilkada secara serentak di 16 daerah Kabupaten/Kota.

“Bantuan dana sosial pasti ada muatan politis saat Pilkada. Dana Bansos paling gurih. Dengan begitu, calon incumben akan menawarkan suara kepada pemilih,” tandasnya.

Selain itu, kata dia, Gubernur Jateng Ganjar Pranowo menargetkan tahun infrastruktur pada 2015. Program tersebut sangat rawan diselewengkan. Secara politis, antara eksekutif dan legislatif pada anggaran infrastruktur sangat rawan dimainkan.

Artikel ini ditulis oleh: