Meluas
Dodo mencatat krisis air bersih di wilayahnya juga melanda warga di RT 05 dan RT 08 RW 03. Jajarannya terus berupaya mendistribusikan bantuan air bersih dari PT Aetra dan Suku Dinas Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan Jakarta Timur.
Bantuan awalnya dari Damkar, tapi karena ternyata yang mengalami kekeringan agak luas.

“Jadi kita kontak lapor BPBD DKI dan akhirnya dapat bantuan dari Aetra pada malam hari. Jadi sudah mulai tercukupi,” katanya.

Kemarau panjang yang diprediksi berlangsung hingga penghujung tahun 2019 juga melanda Kelurahan Cilangkap, Jakarta Timur.
Tidak kurang dari 90 kepala keluarga di wilayah setempat butuh bantuan air bersih.
“Kalau di saya ada 90 kepala keluarga (KK) dengan total 245 jiwa yang terdampak kekeringan dan butuh bantuan air bersih,” kata Lurah Cilangkap Nasir Sugiar.
Sejak Selasa (22/10), warga RT 02, RT 05, RT 06 dan RT 07 mendapat suplai bantuan air bersih dari Suku Dinas Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan Jakarta Timur.
Total bantuan air bersih dari pemerintah untuk Kelurahan Cilangkap mencapai 4.000 liter yang didistribusikan selama dua hari berturut-turut.
Berdasarkan data yang bersumber dari Badan Meteorologi  Klimatologi dan Geofisika (BMKG), di DKI Jakarta pada musim kemarau panjang ini terdapat 15 kecamatan yang masuk dalam kategori “Awas Potensi Kekeringan” dengan indikator lebih dari 61 hari tanpa hujan.
Kecamatan yang masuk kategori ini adalah Menteng, Gambir, Kemayoran, Tanah Abang, Cilincing, Tanjung Priok, Koja, Kelapa Gading, Penjaringan, Tebet, Pasar Minggu, Setiabudi, Makasar (Kelurahan Halim), Pulogadungdan Cipayung.
Sementara itu, berdasarkan data PAM Jaya, terdapat 41 kelurahan atau 15,47 persen dari total kelurahan di DKI Jakarta belum terlayani jaringan Air PAM atau 4,15 persen dari total kelurahan di DKI Jakarta.
Kelurahan yang dimaksud antara lain Kapuk Muara, Kamal Muara (di Jakarta Utara), Pondok Rangon, Munjul, Cilangkap, Setu, Bambu Apus, Ceger, Lubang Buaya, Kebon Pala dan Halim Perdana Kusuma (Jakarta Timur).
(Zaenal Arifin)