Ego Syahrial (istimewa)

Jakarta, Aktual.com – Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Migas Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Ego Syahrial mengungkapkan diantara faktor yang membuat hulu migas nasional tidak menarik adalah minimnya pendataan atau lemahnya akurasi data Blok-Blok migas yang ditawarkan oleh pemerintah.

Selama ini jelas Ego, pemerintah hanya mampu menyajikan data berdasarkan survei 2D dalam penawaran WK Migas, sehingga data yang tidak begitu valid membuat investor enggan untuk berpartisipasi dalam tender.

Dalam lelang blok migas tahun lalu saja, dari lima blok migas yang diminati 70% data disiapkan sendiri oleh badan usaha dengan survei 3D.

“Kalau kita jujur, yang laku selama ini yang memang datanya disiapin badan usaha, oleh KKKS. Kemarin, 5 dari 7 (Blok), 70 persen mereka siapin data sendiri,” kata Ego ditulis Jumat, (5/1).

Ego melanjutkan, lemahnya data yang dimiliki pemerintah bukan berarti pemerintah tidak mampu melakukan survei dengan cara 3D dan lebih teliti, namun masalanya tidak lain alokasi dana untuk kegiatan tersebut semakin menurun.

“Anggaran pemerintah terbatas. Pemerintah paling 1 tahun keluarin anggaran, DIPA, untuk kegiatan pencarian seismik baru nggak sampai Rp90 miliar. Maka dengan anggarannya terbatas, dilakukan dengan sistem 2D, jadi kerapatan scan-nya kurang,” jelasnya.

Untuk diketahui, pada 2017, dana yang bisa digelontorkan Kementerian ESDM untuk melakukan survei data seismik 2D hanya Rp75 miliar untuk survei di titik lokasi dengan masing-masing dana per lokasi adalah sebesar Rp25 miliar.

“Tahun lalu ada tiga di Arafura Selatan, Selaru Timur serta Buru itu semua offshore,” kata Ego.

Untuk tahun ini dana yang disiapkan justru lebih rendah, hanya Rp58 miliar untuk dua titik lokasi yakni di Selo Bangka, Sulawesi Tenggara dengan dana Rp29 miliar dan Singkawang Kalimantan Barat juga dengan biaya Rp29 miliar.

Ego mengatakan dengan alokasi dana yang minim dipastikan akan sulit untuk memperoleh informasi akurat mengenai potensi cadangan migas di 128 cekungan yang tercatat sejauh ini. Terlebih untuk kedepan cadangan migas banyak terdapat di Indonesia bagian timur, dimana biaya yang dibutuhkan pasti akan lebih besar. Untuk satu titik survei di wilayah Indonesia Timur dana yang dihabiskan bisa mencapai Rp100 miliar.

Data Kementerian ESDM menyebutkan sejauh ini potensi dari 128 cekungan yang baru 40% yang sudah dieksplorasi dan berhasil diproduksikan, sementara 20% baru dilakukan tahapan eksplorasi awal dan belum dipastikan potensi cadangannya. Sisanya belum tersentuh.

“Wilayah yang belum dilakukan apa-apa dan belum dilihat itu 40% (dari 128 cekungan). Nah itu terletak di Indonesia Timur,” pungkas Ego.

Dadangsah