Jakarta, aktual.com – Nikmat yang diberikan oleh Allah Swt kepada makhluk-Nya sangatlah banyak hingga tidak terhitung jumlahnya. Akan tetapi, terkadang manusia justru terlalaikan dengan kesibukan duniawinya hingga tidak mensyukuri nikmat yang datang dari Allah Swt.

Imam Athaillah As-Sakandari berkata dalam kitab al-Hikam,

الخدلان كل الخدلان أن تتفرغ من الشواغل ثم لا تتوجه اليه و تقل عوائقك ثم لا ترحل اليه

“ِAdalah kerugian yang sangat besar ketika engkau terlepas dari berbagai kesibukan kemudian engau tidak menghadap kepada-Nya. Atau, engkau diberi sedikit rintangan, tetapi engkau tidak berjalan menuju-Nya,”

Menurut Syekh Ashim al-Kayyali hikmah ini mengisyaratkan pada sabda Rasulullah Saw yang menyatakan, “Ada dua kenikmatan yang dilupakan oleh banyak orang, yakni nikmat sehat dan nikmat sempat (waktu),” (HR. Bukhari).

Sebab, manusia dalam kehidupan dunia ini dituntut untuk beribadah, bermakrifat, dan menyebarkan agama-Nya. Namun, berbagai kesibukan dunia yang kasatmata, berbagai ketergantungan hati, rintangan hawa nafsu dan godaan setan, begitu pula bencana, malapetaka, dan penyakit, semua itu menghalangi dirinya dari jalan akhirat.

Hanya saja kebutuhan-kebutuhan materi dan sejumlah naluri hidup mendorong manusia untuk selalu berjalan di belakang dunia demi memenuhi kebutuhan dan naluri tersebut. Akibatnya, waktu pun penuh dengan kesibukan mengumpulkan harta agar dapat mempertahankan eksistensi dirinya, memenuhi keinginan syahwatnya, dan menyenangkan hawa nafsunya.

Itu pula yang mengalahkan kebutuhan-kebutuhan ruhaninya yang merupakan dasaar keberadaan dirinya. Kebutuhan-kebutuhan materi tersebut kemudian berkembang dalam diri manusia menjadi rintangan nafsu dan setan. Sebab, tenggelam dalam kehidupan dunia akan merusak jiwa, mengeraskan hati, menghalangi ruh, dan cenderung kepada nafsu.

Sesungguhnya manusia yang cerdas senantiasa memanfaatkan waktunya dan menggunakan nikmat sehat dan nikmat sempatnya untuk fokus beribadah kepada Allah Swt. Tujuannya agar dirinya tidak merugi dalam perdagangan Allah Swt.

Waallahu a’lam

(Rizky Zulkarnain)