Saudaraku, degup jantung kita ibarat detak waktu, yang setiap detiknya mengabarkan kehilangan dan penantian. Yang berlalu adalah kekinian yang lekas silam. Yang mendatang adalah kekinian yang lekas menjemput. George Orwell mengatakan, ”Who controls the past controls the future, who controls the present controls the past.” Maknanya, kemarin dan hari esok ditentukan hari ini.

Dengan angin keburukan yang kita tabur hari ini, masa lalu menjadi hantu, masa depan menuai badai. Dengan biji kebaikan yang kita tanam hari ini, masa lalu menjadi lumbung keagungan, dan masa depan menyongsong panen kebahagiaan.

Sebuah sekte rahasia menciptakan tanda peringatan tentang pentingnya waktu di ruang bawah tanah Gereja Santa Maria della Concezione, di puncak Stupa Spanyol di Roma. Pada lantai ruangan biarawan Capuchin, di kaki gundukan tulang-belulang manusia, tertulis sebuah inskripsi, “Siapa kamu sekarang, merekapun pernah sepertimu. Siapa mereka sekarang, kamu pun seperti mereka kelak.”

Maka, jadikan hari ini sebagai ajang menanam benih kebajikan. Nabi Muhammad mengingatkan, ”Sekiranya engkau tahu kiamat terjadi esok hari, sedang di genggaman tanganmu ada benih, maka tanamkanlah.”

Seorang muda bertanya kepada syekh tua yang sedang menanam pohon. ”Untuk apa menanam sesuatu yang tuan tak akan menikmati buahnya? Syekh itu pun menukas, ”Apakah yang kamu makan adalah hasil yang kau tanam sendiri?”

Kecemasan akan hari esok hanya bisa diatasi dengan menanam kebajikan hari ini. Jika pandangan kita ke depan digayuti kabut kerisauan dan pesimisme, sebab utamanya karena kita berhenti menanam harapan untuk masa depan.

Banyak orang menyia-nyiakan waktu, seolah waktu itu berlimpah, berputar melingkar. Sesungguhnya, waktu itu ibarat aliran sungai. ”Tak ada seorang pun bisa melintasi sungai yg sama dua kali,” ujar Heraclitus. Sungai terus mengalir, manusia terus berubah.

Waktu bukanlah keabadian, sekadar labirin tanda tanya yang di setiap ujung jeda dan pintunya selalu sisakan misteri. Namun, setiap jejak tidaklah sia-sia. Seperti samudra bermula dari tetes air. Setiap darma memberi harapan bagi masa depan. Lukisan masa depan adalah pilihan kita menggoreskan warna pada kanvas masa kini.

Yudi Latif

(As'ad Syamsul Abidin)