Jakarta, Aktual.co — Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) mencatatkan setidaknya terdapat 22 Perusahaan plat merah yang telah teraudit merugi di tahun 2014 lalu. Dari ke-22 perusahaan yang merugi itu, PT Garuda Indonesia Tbk memimpin sebagai BUMN merugi terbesar di 2014, dengan total kerugian mencapai Rp 4,6 triliun.

“Masalah kerugiannya itu bervariasi setiap perusahaannya,” kata Kepala Divisi Komunikasi Publik kementerian BUMN, Teddy Poernomo kepada wartawan di Jakarta, Selasa (26/5)

Berdasarkan data yang diperoleh, selain Garuda Indonesia, PT Krakatau Steel (Persero) menempati urutan kedua sebagai perusahaan BUMN yang mengalami kerugian. KS tercatat rugi sebesar Rp2,5 triliun. Sedangkan di peringkat ketiga ada perusahaan maskapai BUMN yang saat ini sudah tidak beroperasi, yaitu PT Merpati Nusantara Airlines (Persero) yang mengalami kerugian Rp 1,5 triliun.

Berikut Daftar 22 Peruahaan BUMN merugi di 2014 yang telah di audit:
1. PT Garuda Indonesia, Tbk : Rp 4,6 triliun
2. PT Krakatau Steel Tbk : Rp 2,5 triliun
3. PT Merpati Nusantara Airlines : Rp 1,5 triliun
4. PT Antam Tbk : Rp 775,2 miliar
5. Perum Bulog : Rp 458,9 miliar
6. PT Rajawali Nusantara Indonesia : Rp 281, miliar
7. PT INTI : Rp 265,8 miliar
8. PT Dok dan Kodja Bahari : Rp 175,9 miliar
9. PT ASEI-REI : Rp 128,1 miliar
10. PT Iglas : Rp 101,2 miliar
11. PT Barata Indonesia : Rp 96,5 miliar
12. PT Dok dan Perkapalan Surabaya : Rp 89,6 miliar
13. PT Industri Sandang Nusantara : Rp 67,9 miliar
14. PT Berdikari : Rp 47,9 miliar
15. PT Perusahaan Perdagangan Indonesia : Rp 37,4 miliar
16. PT Survai Udara Penas : Rp 20,8 miliar
17. PT Indra Karya : Rp 9,2 miliar
18. PT Balai Pustaka : Rp 8,4 miliar
19. PT Primissima : Rp 6,5 miliar
20. PT PDIP Batam : Rp 4,8 miliar
21. Perum Produksi Film Negara : Rp 789 juta

Sementara untuk BUMN yang rugi dan belum teraudit laporan keuanggannya adalah :
1. PT Sang Hyang Seri : Rp 180 miliar
2. PT Pertani : Rp 123,3 miliar
3. PT Kertas Kraft Aceh : Rp 81 miliar
4. PT Industri Nuklir Indonesia : Rp 5,6 miliar
5. PT Energy Management Indonesia : Rp 4,4 miliar.

Artikel ini ditulis oleh:

Eka