epa04767721 Real Madrid's President Florentino Perez speaks during a press conference held at Santiago Bernabeu stadium in Madrid, Spain, 25 May 2015. Perez announced that Italian head coach Carlo Ancelotti will not continue the next season in Real Madrid. EPA/BALLESTEROS

Jakarta, Aktual.com – Presiden klub Real Madrid Florentino Perez mengklaim bahwa Liga Super Eropa akan “menyelamatkan sepak bola” dengan uang yang dihasilkan oleh klub-klub elit dari kompetisi ini.

Presiden terpilih Real Madrid teranyar yang merupakan salah satu inisiator terbentuknya Liga Super Eropa ini diketahui baru saja membeberkan alasan di balik keinginan kuatnya membuat sebuah kompetisi, yang berujung dianggap ilegal oleh UEFA dan FIFA.

“Kita semua melalui situasi yang sungguh sulit. Ketika Anda tidak memiliki pemasukan, satu-staunya jalan adalah dengan memperbanyak pertandingan yang kompetitif dan atraktif,” kata Florentino, seperti dilansir El Chiringuito, Rabu (21/4).

“Sepak bola harus berevolusi, sama seperti bisnis dan manusia yang juga harus berubah. Sepakbola harus beradaptasi. Kami rasa kami perlu perubahan untuk membuat sepakbola menjadi lebih atraktif,” ujarnya.

“Ini akan menyelamatkan semua orang. Sepak bola sedang melalui momen yang sangat sulit. Yang terburuk dalam 20 tahun. Itu tidak akan hilang tetapi bisa turun ke tingkat yang berbeda, jika para pemain muda tidak tertarik padanya,” tuturnya.

“Kami berjuang untuk masa depan sepakbola, tetapi ada orang yang tidak menganggap ini serius,” tegasnya.

Dalam kesempatan yang sama, Perez mengatakan jika format baru Liga Champions yang diusulkan oleh UEFA untuk digunakan pada tahun 2024 mendatang tidak mendatangkan keuntungan yang cukup bagi klub-klub pesertanya.

“Dengan pemasukan yang ada di Liga Champions sekarang, semua klub akan hilang. Dari yang besar sampai yang kecil akan hilang. Nantinya tahun 2024 ketika format baru yang diusulkan oleh UEFA digunakan, klub-klub tersebut telah hilang,” jelas Perez.

“Kami kehilangan 5 miliar euro. Real Madrid sendiri mengalami kerugian sebesar 400 juta euro. Banyak klub di Spanyol, Italia, dan Inggris, harus segera mencari solusi atas situasi finansial yang buruk ini,” kata Perez.

“Saat Anda tidak mendapatkan pemasukan lebih selain dari hak siar televisi, solusinya adalah melakoni laga yang lebih atraktif dengan fans yang bisa menyaksikannya dari seluruh penjuru dunia. Kami berkesimpulan, jika kami memainkan Super League ketimbang Liga Champions, kami bisa meringankan kerugian kami,” lanjutnya.

Liga Super Eropa sendiri lahir akibat krisis finansial tim-tim besar di masa pandemi.

Dilaporkan, Bank JP Morgan menjadi penyumbang dana untuk kompetisi ini.

Dua belas tim yang telah menyatakan bergabung dikabarkan akan mengantongi dana mencapai total 3.5 miliar euro (sekitar Rp61.2 triliun).

Angka yang jelas bisa membuat banyak tim tergoda untuk turut ambil bagian di kompetisi tandingan ini.

Di lain sisi, Perez menganggap bahwa sepak bola telah kehilangan magisnya dan membutuhkan perubahan.

Ia merasa terlalu banyak pertandingan yang tidak atraktif bahkan di kelas Liga Champions sekalipun.

“Sepak bola harus berubah dan menjadi lebih atraktif secara global. Liga Champions telah kehilangan daya pikatnya seperti di tahun 1950. Perubahan terjadi dan bahkan pada saat itu FIFA dan UEFA menentangnya. Tapi begitulah perubahan terjadi di dunia sepak bola,” tambahnya.

“Ada banyak pertandingan dengan kualitas rendah sekarang. Duel Barcelona-Manchester United lebih atraktif daripada Manchester United melawan tim yang biasa-biasa saja di Liga Champions,” imbuhnya.

“Kami memiliki fans di seluruh belahan penjuru dunia. Di situlah uang berasal. Uang ada untuk semuanya. Ini piramidanya. Jika klub papan atas memiliki uang, mereka bisa mendapatkan penghasilan untuk semuanya,” tandasnya. (RRI)

(Warto'i)