Jakarta, Aktual.co — Pengamat Ekonomi dari LIPI mengatakan bahwa kebijakan Presiden Joko Widodo untuk menghadapi tantangan ekonomi global, seperti pelambatan ekonomi beberapa negara maju, dan antisipasi pembalikkan arus modal karena normalisasi ekonomi Amerika Serikat sangat dinantikan para pelaku pasar.

“Jokowi harus mampu menjelaskan dengan baik dan bisa membuat rencana secara periodik, mengenai rencananya untuk menghadapi tantangan global, seperti penyusutan ekonomi negara-negara maju,” kata pengamat ekonomi LIPI Agus Eko Nugroho di Jakarta, Senin (20/10).

Agus mengatakan, pelambatan ekonomi global, seperti yang terjadi di Tiongkok, Jepang dan juga Eropa telah menekan ekonomi Indonesia sepanjang tahun. Negara-negara maju tersebut merupakan sasaran ekspor Indonesia. Alhasil, akibat pelemahan negara-negara tersebut, kinerja eskpor Indonesia melemah, ditambah penurunan harga komoditi.

“Perlu ada perluasan sasaran ekspor, seperti ke Amerika Selatan, Asia Tengah, dan juga negara-negara pecahan Uni Soviet, masih banyak potensi disana,” ujar dia.

Agus menuturkan, pelaku pasar terus memantau wacana-wacana dan rencana kebijakan ekonomi Jokowi. Pasar mengharapkan Jokowi dapat memulai reformasi struktural ekonomi yang dapat memperbaiki ruang fiskal, dan juga neraca transaksi berjalan yang terus mengalami defisit.

Pada Agustus 2014, Badan Pusat Statistik mengemukakan neraca perdagangan mengalami defisit mencapai 318 juta dolar AS. Defisit Agustus merupakan defisit yang keempat dialami Indonesia pada 2014, setelah Januari, April dan Juni. Sedangkan, defisit neraca transaksi berjalan sebesar 4,27 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) atau senilai 9,1 miliar dolar AS hingga kuartal II 2014.

Agus menambahkan, kebijakan ekonomi Jokowi yang akan diambil dalam waktu dekat, juga harus menyiasati untuk mengurangi dampak dari rencana kenaikan suku bunga Bank Sentral Amerika Serikat, The Fed pada 2015.

Untuk mengurangi dampak normalisasi ekonomi AS yang dapat menyedot arus modal dari negara berkembang itu, Jokowi harus memperhatikan instrumen moneter yang prudensial, ditambah perbaikan fiskal untuk memelihara kepercayaan investor.

“Bisa dengan menaikkan harga BBM dengan ‘timing’ yang sudah ditentukan dan dilengkapi program antisipasi dampak yang lengkap,” ujarnya.

Gubernur The Federal Reserve (The Fed) Jannet Yellen sebelumnya memberikan sinyal bahwa suku bunga acuan dari 0,25 persen akan dinaikkan pada awal 2015 atau bahkan lebih cepat di akhir 2014, seiring perkiraan pemulihan ekonomi di AS.

()

(Eka)