Jakarta, Aktual.com — Mahalnya penjualan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) di Indonesia dibanding negara lain akibat kegagalan PT Pertamina (Persero) yang tidak mampu memanfaatkan penurunan harga minyak dunia yang berada pada kisaran USD30 per barel.

Institute for Development of Economic and Finance (INDEF) mengatakan seharusnya Pertamina melakukan alternatif melalui kerjasama yang langsung ke negara-negara produsen untuk melakukan impor jenis minyak mentah.

“Kalau pemerintah bisa G to G dengan negara-negara produsen dan mengacu pada harga minyak dunia, maka penjualan dalam negeri bisa mencapai Rp5 ribu hingga Rp6 ribu, sekarang misalnya degan produksi berlebih, negara-negara produsen juga kesulitan untuk mencari konsumen negara yang mau beli,” kata Direktur Eksekutif INDEF, Enny Sri Hartati usai menjadi pembicara diskusi di Gedung DPR-RI, Jakarta, Rabu (2/3).

Akan tetapi disayangkan penjualan harga minyak di Indonesia tidak mengacu pada harga minyak dunia, namun melainkan mengacu pada MOP Singapura dan membuat harga berada pada tingkat yang cukup tinggi.

Lebih lanjut Enny mengatakan seharusnya penurunan harga minyak dunia merupakan kesempatan bagi Pertamina untuk menambahkan stok cadangan energi agar nantinya mampu menjaga stabilitas energi.

“Namun konsekuensinya harus ada percepatan pembangunan kilang oleh pertamina. Dengan progres laporan keuangan pertamina yang semakin membaik, mestinya pertamina tidak kesulitan untuk mendapat pembiayaan pembangunan kilang atau bisa dengan skema pembiayaan lain,” jelasnya.

Enny menyatakan keyakinannya jika pemerintah mampu menekan harga dan menjaga stabilitas pasar maka akan memacu daya saing dan mengangkat perekonomian nasional.

(Arbie Marwan)