Tangkapan Layar Diskusi Masa Depan Asia Tenggara
Tangkapan Layar Diskusi Masa Depan Asia Tenggara "Tantangan Pascapandemic Covid-19 dan Perubahan Politik Global" yang diselenggaran KAKAMMI bekerjasama dengan Aktual.com, Jakarta, Jumat (17/9) malam.

Jakarta, Aktual.com – Pemimpin Oposisi Malaysia, Dato Seri Anwar Ibrahim mengatakan bahwa kemajuan yang dilakukan oleh bangsa-bangsa di Asia Tenggara ini tidak hanya fokus kepada kemajuan dalam bidang ekonomi dan teknologi saja, akan tetapi yang lebih penting adalah etika dan juga akhlak.

Hal ini ia sampaikan dalam Softlaunching Kepengurusan Keluarga Alumni Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAKAMMI) dengan tema ‘Masa Depan Asia Tenggara: Tantangan Pascapandemic Covid-19 dan Perubahan Geopolitik Global’ yang bekerjasama dengan Aktual.com pada, Jumat (17/9) malam.

“Saya bedakan kemajuan bangsa ini dari sudut pemerkasaan yang agak berbeda, tidak hanya terjurus pada ekonomi dan teknologi, tetapi juga budaya yang berlandaskan etika dan juga akhlak, yang ini dapat kita bedakan antara masyarakat madani dengan masyarakat biasa,” kata Anwar dalam orasinya tersebut.

Selain itu, ia juga menjelaskan bahwa belakangan ini tren yang digaungkan oleh negara-negara lain, seperti China dengan rising power-nya hanya mementingkan perkembangan kekuatan militer dan ekonomi saja.

Ia pun meminta agar bangsa-bangsa di kawasan Asia Tenggara jangan hanya terfokus pada perkembangan dari sisi ekonomi saja, tetapi juga harus disertai dengan sisi akhlak yang akan mengangkat harakat martabat suatu negara.

“Seperti rising power China, yang lebih mementingkan perkembangan dari sisi ekonomi dan militer. Akan tetapi kita berbicara tentang pemerkasaan manusia dengan mengangkat harakat mereka, yang bukan hanya ekonomi. Akan tetapi pertimbangan akhlak dan juga etika yang keadilan sosial saat ini masih timpang,” katanya.

Mantan Perdana Menteri Malaysia ini menyebut jika ketimpangan ini disebabkan oleh kurangnya kebebasan kerangka berpikir yang ada di pemikiran masyarakat. Sehingga masih mudah terseret oleh arus trending tanpa adanya landasan.

“Ketimpangan kita ini justru karena kerangka berpikir kita ini masih belum bebas, sehingga kita mudah diseret dengan pemikiran yang disebut trending. Meskipun tidak mengapa kita mengikuti trending, akan tetapi kita harus tetap dengan landasan, bahwa kemajuan, pembangunan atau globalisasi ini, tidak terpisah dari asas akhlak yang menekankan soal keadilan,” ucapnya.

Sementara itu, Ketua Pembina KA KAMMI yang juga hadir dalam acara tersebut berharap agar Indonesia dan Malaysia mampu menghadirkan wajah baru yang bernafaskan Keislaman sehingga mampu mewakili Islam dari hadirnya asumsi-asumsi negatif.

“Bisakah kita memiliki sesuatu yang baru di Asia Tenggara ini, memiliki nafas Islam, sebab menjadi Melayu pasti jadi Islam. Sehingga kita memiliki ide baru, bisakah Islam itu kembali dihadirkan dengan wajah yang memenangkan dan meredakan kecurigaan yang luar biasa, perasaan kecurigaan antar kaum antar agama yang sedang meluas,” ucapnya.

Jurnalis Senior, Prof Dr (HC) Dahlan Iskan justru mengatakan bahwa moderasi ke arah moderat yang akan menimpa Asia Tenggara khususnya Indonesia dan Malaysia ini pasti akan diwarnai dari segi Ekonomi.

“Menurut pendapat saya, moderasi ke arah moderat ini mau tidak mau akan mewarnai ekonomi yang akan datang,” ucap Dahlan Iskan.kk

Ia juga pun berasumsi bahwa negara Tiongkoklah yang akan menjadi raksasa negara di Asia ini.

“Asumsi terkuat saya adalah tiongkok akan menjadi negara super-power, Negara yang menjadi raksasa ekonomi,” katanya.

(Rizky Zulkarnain/Hilmi)

(A. Hilmi)