Petugas menghitung uang kertas mata uang rupiah di tempat penukaran uang (Money Changer) PT Ayu Masagung, kawasan Kwitang, Jakarta, Rabu (25/4). Kebijakan Bank Indonesia (BI) dalam menyikapi pelemahan nilai tukar rupiah ke depan sangat berpengaruh terhadap arah rupiah dalam jangka panjang. Jika salah langkah, maka rupiah berpotensi menyentuh level Rp 15.000 per dollar AS. AKTUAL/Tino Oktaviano

Jakarta, Aktual.com – Nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta, Selasa (3/7) sore, ditutup melemah sebesar 60 poin menjadi Rp14.397 dibandingkan posisi sebelumnya Rp14.390 per dolar AS.

Analis senior CSA Research Institute Reza Priyambada mengatakan depresiasi Rupiah masih dominan dipengaruhi faktor eksternal, terutama potensi perang dagang AS dan Tiongkok.

“USD masih cenderung menguat dengan sentimen perang dagangnya,” ujar Reza.

Pelaku pasar tampaknya masih terus mencermati perkembangan dari potensi terjadinya perang dagang antara AS dan Tiongkok tersebut sehingga permintaan akan mata uang “safe haven” masih lebih besar.

Selain itu, ada juga masalah internal Tiongkok yakni ada kemungkinan gagal bayar obligasi korporasi yang masih bisa membesar lagi, mengingat ekonomi negara itu tengah melambat.

Hal tersebut diduga imbas dari perang dagang sehingga kegiatan bisnis di kedua negara terganggu. Pebisnis Tiongkok terkendala ketika mengirim barang ke AS, begitupun sebaliknya.

Pada akhirnya, lanjut Reza, kondisi makro ekonomi keduanya juga akan terganggu. Tentunya ini dapat berimbas pada mitra dagang mereka lainnya.

Selain itu, pelemahan rupiah terhadap dolar AS belum mampu terangkat oleh sentimen domestik. Padahal akhir pekan lalu Bank Indonesia telah menaikkan suku bunga acuan 50 basis poin.

Dalam kurs tengah BI pada Senin (2/7) kemarin, tercatat nilai tukar rupiah bergerak menguat ke posisi Rp14.418 dibandingkan posisi sebelumnya Rp14.331 per dolar AS.

Ant.

(Teuku Wildan)