Dua karyawan mengamati pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat (22/4). Perdagangan IHSG pada akhir pekan ditutup naik 11,65 poin atau 0,24 persen menjadi 4.914,73. ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan/aww/16.

Jakarta, Aktual.com – Pola gerak nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat (USD) pada perdagangan hari ini diproyeksikan masih akan melanjutkan pelemahan, mengingat masih terlalu banyak sentimen negatif global yang menekan laju rupiah.

Isu kenaikan suku bunga bank sentral AS, The Federal Reserve masih menjadi ancaman mata uang banyak negara, terutama Indonesia. Apalagi juga kembali terjadi pelemahan harga minyak dunia juga ikut menekan rupiah ke titik pelemahannya.

“Rupiah berpeluang melanjutkan pelemahan mengingat rilis cadangan minyak tersebut nantinya dapat dijadikan momentum para pelaku pasar untuk melakukan aksi profit taking,” ujar analis PT NH Korindo Securities Indonesia, Reza Priyambada dalam analisisnya, Rabu (14/9).

Menurut Reza, dengan laju rupiah yang cenderung bergerak melemah seiring melemahnya laju harga minyak mentah dunia, telah direspon negatif para pelaku pasar.

“Para pelaku pasar melakukan profit taking (aksi ambil untung) terhadap risk money seperti rupiah ini yang sempat menguat sebelumnya,” jelas dia.

Untuk itu, kata dia, dalam perdagangan hari ini level support rupiah berada di rentang 13.200 dan tingkat resisten akan berada di kisaran 13.120. “Tetap cermati sentimen yang ada,” tegasnya.

Isu kenaikan suku bunga The Fed juga masih memengaruhi laju rupiah. Pada perdagangan kemarin, laju USD bergerak menguat dan cenderung berbalik arah positif dari pelemahan sebelumnya.

Hal ini terjadi setelah para petinggi The Fed sepertinya hampir semua sepakat untuk dilakukan kenaikan suku bunga. Kendati memang masih terjadi diskusi serius terkait kebijakan moneter tersebut.

“Salah satunya disampaikan oleh Presiden The Fed Boston, Eric Rosengren yang mengatakan dalam pidatonya pekan lalu bahwa suku bunga rendah meningkatkan peluang ‘overheating’ pada ekonomi AS,” jelas Reza.

Menurut Reza, sentimen global yang datang silih berganti memang harus disikapi dengan kewaspadaan tinggi dari pelaku pasar.

Pada perdagangan kemarin, kata dia, laju rupiah gagal melanjutkan penguatan setelah di akhir pekan lalu terserang sentiment negatif dari Korea Utara.

“Sehingga para pelaku pasar melakukan aksi profit taking mengingat pergerakan rupiah menguat cukup tajam di pekan lalunya. Aksi profit taking ini masih akan terjadi pada perdagangan hari ini,” papar Reza.

 

*Bustomi

()