Warga melaksanakan salat Jumat di halaman Masjid Jamik Quba, Pidie Jaya, Aceh, Jumat (9/12). Warga melaksanakan salat Jumat di halaman masjid dikarenakan robohnya masjid akibat gempa berkekuatan 6,5 SR di Pidie Jaya. ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A./aww/16.

Jakarta, Aktual.com  – Banyaknya masjid yang rusak pada gempa tektonik 6,5 Skala Richter (SR) pada Rabu (7/12) pagi merupakan peringatan untuk warga Aceh.

Sekarang ini banyak masjid yang rusak dibandingkan peristiwa musibah gempa dan tsunami 2004, kata Sahrul Abdullah, Ketua Panitia Masjid Jami Nur Abdullah, Gampong Paruh Keudeu, Kabupaten Pidie Jaya, Jumat (9/12).

Ia menyebutkan saat ini mengapa masjid banyak yang rusak, berbeda dengan musibah gempa disertai tsunami pada 2004 dimana sedikit masjid yang rusak bahkan banyak yang masih kokoh berdiri, katanya.

Dari nasihat orang tua dahulu, yakni, perbanyak kegiatan beragama dan penuhilah masjid-masjid yang ada.

“Faktanya sekarang, masjid tidak banyak ada kegiatan dan tidak dipenuhi oleh jamaahnya,” katanya.

Selain itu, saat ini banyak sekali masjid yang sudah tidak mematuhi para ulama atau orang tua dahulu dimana yang namanya masjid jami itu hanya ada di satu kecamatan saja.

Tapi sekarang setiap kecamatan biasa dua sampai tiga masjid, katanya.

Ulama dahulu mensyaratkan pembangunan masjid itu, yakni, bisa membangun masjid sampai suara adzan tidak terdengar lagi di satu daerah, pesantren hanya ada satu saja, pembangunan masjid harus sesuai hasil mufakat jamaah masjid, dan jumlah jamaah mencukupi.

Setelah memenuhi syarat dari ulama atau tokoh adat itu, barulah bisa membangun masjid. “Kenyataannya masjid berdekatan,” katanya.

Bahkan, dahulu namanya pesantren itu satu kecamatan ada satu saja hingga mereka beribadah di satu masjid. “Sekarang satu kecamatan bisa ada satu sampai tiga pesantren,” katanya.

“Ini adalah peringatan dari Allah SWT kepada umatnya untuk instropeksi diri agar tidak sombong dan penuhilah kembali masjid-masjid yang ada,” katanya.

(Ant)

(Nebby)