Jakarta, Aktual.co —Redaktur Senior Aktual, Satrio Arismunandar, melakukan liputan jurnalistik ke Irak sejak 20 Februari 2015. Selama sekitar dua minggu, ia dijadwalkan mengunjungi berbagai kota di negeri kaya minyak yang sering dilanda perang itu. Berikut ini adalah laporannya.“Jangan mudah percaya dengan laporan media massa Barat tentang konflik sektarian di Irak,” ujar Des Alwi, mantan staf Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) untuk Irak, yang telah satu setengah tahun bertugas di KBRI Baghdad, Januari 2015. Lulusan jurusan
Hubungan Internasional FISIP Universitas Indonesia itu kini sudah ditugaskan ke pos diplomatik lain di Eropa.“Media Barat sering menulis soal konflik keras antara warga Sunni versus Syiah di Irak. Tetapi itu sebetulnya hanya di tataran politik. Dalam kehidupan sehari-hari, warga Syiah dan Sunni di Irak biasa tinggal berdampingan, bertetangga, dan rukun-rukun saja,” lanjut Des Alwi, yang selama bertugas di KBRI Baghdad tidak membawa istri dan anaknya, yang tetap tinggal di Indonesia.
Larangan membawa keluarga itu adalah aturan standar untuk semua staf KBRI Baghdad, sejak kantor KBRI dibuka kembali pada 2012. Kantor KBRI sempat dikosongkan ketika terjadi invasi militer Amerika Serikat ke Irak, yang berujung dengan jatuhnya pemerintahan Presiden Irak, Saddam Hussein pada 2003. Saat itu semua staf KBRI diungsikan karena pertimbangan keamanan.
Aktivitas KBRI Baghdad kini telah dihidupkan kembali dan dipimpin oleh Duta Besar Safzen Noerdin, yang pernah menjadi Komandan Korps Marinir TNI-AL. Penunjukan Safzen yang berlatar belakang militer mungkin tepat, karena Irak memang daerah rawan dan membutuhkan duta besar dengan kualifikasi khusus.
Kini kondisi keamanan di Irak dianggap sudah jauh lebih kondusif, meski letupan konflik –seperti ledakan-ledakan bom di tempat umum—terkadang masih terjadi. Maka Baghdad (Irak), bersama dengan Tripoli (Libya), Kabul (Afganistan), dan Sana’a (Yaman), oleh Kementerian Luar Negeri RI masih dikategorikan sebagai daerah penugasan yang berbahaya. Jadi, larangan bagi staf KBRI untuk membawa keluarga itu tetap diberlakukan.

















