Pemuda dari berbagai organisasi Kepanduan/Pramuka Indonesia, Desember 1928, dalam buku De Nationalistische Beweging In Nederlandsch-Indie (1931). Koleksi Perpustakaan Nasional Republik Indonesia Bagian dari Pameran Foto & Grafis Indonesia Bergerak: 1900-1942 di Galeri Foto Jurnalistik Antara, 7 September - 7 Oktober 2020.

Jakarta, aktual.com – Pameran foto dan grafis “Indonesia Bergerak: 1900-1942” yang diselenggarakan oleh Galeri Foto Jurnalistik Antara (GFJA) bekerja sama dengan Arsip Nasional Republik Indonesia, Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, dan KITLV-Jakarta menampilkan 75 dokumen visual baik foto, lukisan, sketsa, serta arsip surat kabar periode 1900-1942 dalam rangka mengajak masyarakat melihat rekam jejak intelektual semasa pergerakan nasional.
Kurator Pameran “Indonesia Bergerak” Ismar Patrizki mengatakan politik etis yang diterapkan oleh pemerintah Belanda menjadi titik awal lahirnya putra-putri bangsa yang terdidik dan memilki cita-cita untuk menjadi bangsa merdeka.

“Periode 1900-1942 para pemuda bangsa tengah ditempa untuk menjadi lokomotif yang mengantarkan Indonesia menuju kemerdekaan dan kedaulatan. Semangat nasionalisme mereka mengalahkan ego SARA,” kata Ismar di Jakarta, Senin.
Lewat tulisan, organisasi dan diplomasi, para intelektual ini menyampaikan kritik dan gagasan tentang pentingnya menjadi bangsa yang merdeka.

Jejak-jejak itu dapat dilihat dari surat-surat yang ditulis oleh Raden Ajeng Kartini (1879-1904), surat kabar bumiputera pertama yang didirikan oleh Tirto Adhi Soerjo (1880-1918), berdirinya organisasi modern Boedi Oetomo (1908), berdirinya organisasi massa pertama Sarekat Islam (1911), hingga Pleidoi Indonesia Menggugat (1930) oleh empat sekawan, Soekarno Gatot Mangkoepradja, Maskoen, Soepriadinata.
Pameran diawali dengan menampilkan tokoh Raden Ajeng Kartini, yang merupakan pelopor kebangkitan nasional serta diakhiri dengan masuknya Jepang pada 1942.

“Melalui pemikiran kritisnya terhadap realitas negara kolonial, Kartini menjadi pembuka jalan yang mengawali periode kebangkitan nasional. Kepoloporannya itu segera diikuti para pemuda dan pemudi yang telah tercerahkan,” kata Sejarawan Universitas Indonesia Bondan Kanumoyoso.

Bondan menjelaskan generasi setelah Kartini memiliki cita-cita yang lebih luas. Mereka tidak hanya ingin mendapat posisi strategis dalam tatanan masyarakat kolonial, tetapi mereka ingin mewujudkan masyarakat yang merdeka, terbebas dari belenggu dari kolonialisme.

Perjuangan para cendikiawan ini tidak hanya berpusat di Jawa dan Sumatera saja, mereka juga berjuang di tanah pengasingan, seperti di Boven Digoel, Ende, Banda Neira dan Bengkulu.

Dokumen visual yang ditampilkan merupakan koleksi dari Kantor Berita Antara, Arsip Nasional Republik Indonesia, Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, Univesiteit Leiden/KITLV-Jakarta, dan Delpher (National Library of the Nederlands).

Pameran yang digelar untuk merayakan HUT ke-75 RI ini berlangsung pada 7 September – 7 Oktober 2020. Masyarakat juga dapat menikmati pameran secara daring melalui situs antarafoto.com dan antaranews.com.

 

 

(Tino Oktaviano)