Jakarta, Aktual.com – Dalam dua hari terakhir, angka kasus positif terpapar virus corona (COVID-19) di Indonesia mencengangkan publik dengan jumlah di atas 1.000 orang.

Pada Selasa (9/6) jumlah kasus positif baru sebanyak 1.043 dan Rabu (10/6) ada 1.240 orang. Jumlah yang dirawat 20.228, pasien sembuh 12.129 dan meninggal sebanyak 1.959 sehingga total terpapar mencapai 34.316 kasus.

Tidak ada satupun pihak yang bisa memastikan perkembangan kasus positif pada hari-hari depan, apakah ini adalah puncak atau tangga menuju puncak penyebaran wabah ini. Yang ada adalah perkiraan-perkiraan berdasarkan tren data.

Peningkatan jumlah kasus itu menunjukkan bahwa penularan dan penyebaran wabah ini masih terjadi secara masif. Fakta itu juga menunjukkan angka pertambahan kasus baru terjadi saat berlangsung transisi menuju kehidupan normal baru.

Pergerakan atau mobilitas warga yang meningkat tampaknya memicu peningkatan angka baru virus yang bermula dari Wuhan (China) itu. Karena itu, tak berlebihan kiranya kewaspadaan dan kehati-hatian menjadi prioritas masyarakat.

Data menyebutkan terjadi lonjakan kasus baru hingga 949 pada 23 Mei yang merupakan ujung dari arus mudik. Kemudian ada peningkatan drastis 6 Juni 2020 dengan 993 kasus diperkirakan terjadi di ujung pergerakan arus balik.

Pertambahan kasus positif mengharuskan pemerintah menyiapkan sarana kesehatan yang memadai. Itu menyangkut kesiapan sarana dan prasarana di rumah sakit serta tenaga medis.

Kini rumah-sakit dan tenaga medis menghadapi beban tugas terberat, bukan saja harus menangani pasien terjangkit virus corona tetapi juga pasien penyakit lain. Hal seperti itu terjadi juga di berbagai negara.

Fokus
Di Indonesia, rumah sakit dan tenaga medis telah dimobilisasi untuk menangani pasien terpapar virus corona. Bahkan diimbau untuk fokus menangani dan mengantisipasi terjadinya lonjakan jumlah pasien virus corona.

Kementerian Kesehatan pada 16 April 2020 menyampaikan imbauan agar rumah sakit dan Dinas Kesehatan mengerahkan seluruh tenaga medis untuk menangani pasien wabah ini. Data menunjukkan bahwa sejak diumumkan adanya dua pasien terjangkit virus corona pada 2 Maret 2020, jumlah kasus terus naik.

Jumlah diumumkan setiap sore memang naik-turun, tetapi secara kumulatif trennya naik terus. Di sinilah urgensi mobilisasi rumah sakit dan tenaga medis melalui imbauan untuk fokus mengantisipasi dan menangani pasien virus corona.

Imbauan disampaikan melalui surat Direktur Jenderal Pelayanan Kesehatan Kemenkes Bambang Wibowo Nomor YR.03.03/III/III8/202 kepada seluruh Kepala Dinas Kesehatan provinsi, kabupaten/kota dan direktur utama, direktur serta kepala rumah sakit seluruh Indonesia.

Imbauan ini sehubungan dengan ditetapkannya penyakit COVID-19 sebagai pandemi global dan makin meluasnya wabah penyakit yang disebabkan virus SARS-CoV-2 tersebut di Indonesia.

Kemenkes juga menilai perlu dilakukan pencegahan penularan kepada dokter dan tenaga kesehatan di rumah sakit serta pasien yang berkunjung ke rumah sakit.

Isi imbauan tersebut, yakni rumah sakit memberikan pelayanan pada pasien COVID-19 dan melengkapi semua kelengkapan penanganan kasus COVID-19 serta alat pelindung diri (APD). Hal ini berlaku bagi semua petugas kesehatan sesuai kriteria masing-masing ruang pelayanan atau risiko pelayanan.

Rumah sakit tetap memberikan pelayanan yang bersifat gawat darurat dan membutuhkan perawatan segera untuk penyakit-penyakit selain COVID-19.

Selanjutnya, mengembangkan pelayanan jarak jauh (telemedicine) atau aplikasi daring lainnya dalam memberikan pelayanan kepada pasien dan keluarga pasien yang memerlukan.

Sedangkan dokter, perawat dan tenaga kesehatan lain yang berusia di atas 60 tahun dan memiliki penyakit penyerta dianjurkan untuk bekerja di rumah dengan memanfaatkan fasilitas teknologi informasi (telemedicine).

Jarak Jauh
Dalam bahasa sederhana “telemedicine” merupakan pengobatan jarak jauh. Konsultasi medis dilakukan dengan media komunikasi, seperti telepon dan internet serta aplikasi-aplikasi perpesanan atau percakapan.

Kini di tengah wabah pandemi virus corona di berbagai negara, sistem pengobatan jarak jauh berkembang jarak jauh. Di India, misalnya, semakin banyak dokter menggunakan media daring untuk melayani konsultasi pasien yang menderita penyakit ringan.

Untuk mencegah kerepotan di klinik dan risiko infeksi yang menyertainya, banyak dokter beralih menggunakan panggilan video dan obrolan melalui aplikasi, selain panggilan telepon biasa.

Sushila Kataria, direktur kedokteran internal di Rumah Sakit Medanta di Gurugram, dekat New Delhi, mengatakan pihaknya sudah mulai merawat hampir 80 persen pasien secara daring, dengan pemeriksaan fisik terbatas hanya untuk kasus-kasus mendesak.

Dengan sistem kesehatan yang kewalahan, bahkan dalam masa-masa normal, India mengeluarkan pedoman pengobatan jarak jauh sebagai dorongan untuk konsultasi melalui internet. Namun dokter harus berjuang dengan koneksi jaringan yang buruk dan menemukan cara untuk membangun kepercayaan pasien.

Di Indonesia, kini juga berkembang pengobatan jarak jauh untuk mengurangi orang datang ke rumah sakit. Hal itu diarahkan untuk mengurangi risiko potensi penularan virus corona dari kontak langsung antara dokter dengan pasien maupun pasien dengan paramedis atau orang lain yang datang ke rumah sakit.

Saat ini telah ada setidaknya 12 layanan perusahaan kesehatan digital yang tergabung dalam Indonesia Telemedicine Association (Atensi). Jumlah penggunanya juga diklaim meningkat.

Dengan fasilitas layanan kesehatan secara daring, maka masyarakat tidak perlu ke rumah sakit untuk sekadar melakukan konsultasi ke dokter untuk penyakit ringan yang tidak perlu tindakan medis.

Ringan
Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 juga mendorong masyarakat mengurangi kunjungan ke rumah sakit. Namun menggunakan aplikasi atau platform pengobatan jarak jauh.

Model pengobatan jarak jauh dengan dukungan teknologi informasi (IT) tampaknya akan menjadi tren karena praktis dan cepat. Pasien tak perlu antre lama menunggu kedatangan dokter.

Tentunya untuk konsultasi atas penyakit dengan gejala berkategori ringan. Juga untuk pengobatan yang tidak membutuhkan tindakan medis seperti operasi dan penggunaan peralatan yang hanya tersedia di rumah sakit.

Kemampuan pasien mengungkapkan gejala yang dirasakan akan menjadi kunci bagi dokter daring dalam mendiagnosis penyakit yang diderita pasien. Kemudian menentukan obat dan saran-saran yang diberikan.

Komunikasi yang terbangun secara baik dan kekeluargaan antara dokter itu dengan pasien melalui aplikasi dan platform komunikasi tampaknya menjadi solusi untuk kesembuhan pasien. Juga akan menjadi daya tarik orang untuk menggunakan jasa pengobatan dengan model ini.

Karena jarak fisik dan waktu, maka diagnosis penyakit sangat mengandalkan kemampuan serta kejujuran pasien mengungkapkan gejala sakitnya secara detil dan faktual. Dengan demikian akan bisa diperoleh diagnosa yang tepat.

Karena itu, “telemedicine” membutuhkan dokter-dokter yang sangat berpengalaman menangani penyakit tertentu dengan beragam latar belakang pasien. Dengan pengalaman panjang, maka akan mampu mendiagnosis penyakit yang diderita pasien yang gejalanya hanya
disampaikan melalui aplikasi dan platform komunikasi.

Bukanlah solusi yang baik kalau akhirnya pasien tetap disarankan untuk memeriksakan diri langsung ke dokter di rumah sakit untuk sakitnya yang tergolong ringan.

Bukankah layanan “telemedicine” untuk mengurangi kontak langsung dokter dengan pasien demi menekan potensi penyebaran virus corona?

 

Antara

(As'ad Syamsul Abidin)